Tuesday, 07 September, 2010       Login | Register

Opinion

Pengendalian Rabies dan Otoritas Veteriner

Belum tuntas wabah rabies di pulau Bali, kita kembali dikejutkan dengan wabah rabies yang terjadi di Pulau Nias. Seperti layaknya pulau-pulau kecil di sekitar pulau sumatra, sebelumnya pulau Nias secara historis merupakan pulau yang tidak pernah tertular rabies. Namun menyusul pulau Bengkalis dan Pulau Rupat yang tertular pada bulan Maret 2009, saat ini pulau Nias pun telah tertular rabies.
Daratan Sumatra sendiri memang selama ini mempunyai kasus rabies yang cukup tinggi. Data dari Departemen Pertanian menyatakan bahwa pada tahun 2008 di seluruh daratan sumatra saja telah terjadi lebih dari 2600 kasus gigitan, dan dari jumlah sampel spesimen yang berhasil diperiksa di laboratorium sebesar 73,4% dinyatakan positif uji rabies. Kasus rabies yang tinggi di daratan sumatra ini tentu sangat mengancam pulau-pulau kecil di sekeliling daratan sumatra, yang selama ini terbebas karena tertolong oleh batas laut.

Rabies Control and Veterinary Authority

With rabies still in Bali, we are again shocked by the news of rabies outbreak in Nias Island. As of other small islands around Sumatra Island, Nias was previously historically free from rabies. But as rabies emerged in Bengkalis and Rupat islands in March 2009, Nias has now been infected by the disease as well.
Sumatra Island itself does have considerably high cases of rabies. Data from the Ministry of Agriculture stated there were 2,600 bite cases in Sumatra in 2008. From specimens submitted for laboratory diagnosis, 73.4% were positive for rabies. With high numbers of rabies cases in Sumatra, small islands surrounding Sumatra, which are historically rabies free because the sea acted as a natural barrier, are at high risk of contracting the disease.

Memilih Hewan Kurban yang Sehat

Gusti Muhammad Sofyanoor
Setiap tahun, umat muslim merayakan hari Idul Adha atau Idul Kurban yang ditandai dengan penyembelihan hewan kurban. Agar ibadah kurban dapat kita jalankan dengan sempurna, hendaknya diawali niat yang ikhlas dan tentu saja dengan cara memilih hewan kurban yang layak.

Hewan kurban dikatakan layak apabila memenuhi beberapa persyaratan sebagaimana tuntunan agama Islam. Hewan yang dikurbankan adalah kategori hewan ternak besar. Di Indonesia, hewan yang dijadikan pilihan umumnya ternak sapi, kerbau, kambing dan domba. Syarat lain, hewan kurban harus berjenis kelamin jantan dan cukup umur (di atas 1 tahun). Hewan kurban secara keseluruhan mempunyai penampilan tubuh yang baik dan tidak memiliki cacat tubuh. Pada lokasi tempat penjualan hewan kurban, calon pembeli kadang terkecoh/tidak memperhatikan beberapa bagian tubuh hewan kurban, misalnya daun telinga sering ditemukan ada yang sobek, tanduk sering ditemukan ada yang patah, alat kelamin jantan ada yang sudah dikebiri, sejumlah kasus dijumpai ekor yang tidak utuh/bekas dipotong, bahkan ada saja oknum yang menawarkan hewan kurban yang salah satu kakinya patah dan dijual dengan harga murah.

Choosing A Healthy Sacrificial Animal

Gusti Muhammad SofyanoorEach year, Moslems celebrate Eid al-Adha or the Festival of Sacrifice by sacrificing livestock. To conduct the sacrificial ceremony perfectly, it must be started with sincerity and fitting sacrificial animals.
A sacrificial animal is said to be fitting if it meets with several requirements stated in the Islam law. Sacrificed animals are large livestock animals. In Indonesia, common sacrificial animals are cattle, water buffalos, goats, and sheep. Another criterion is the animal must be male and has the proper age (over 1 year). A sacrificial animal must overall have good physical presentations without any physical impairment. At livestock yards, often people miss noticing several body parts of the animal they intend to sacrifice, for example torn ears, broken horns, castrated bulls, and in some cases mutilated tails. Some people even sell animals with broken legs at very cheap prices.

PANDANGAN CIVAS MENGENAI WABAH INFLUENZA A (H1N1)

Sejak pertengahan April 2009 dunia telah dihebohkan oleh merebaknya kasus infeksi virus influenza H1N1 pada manusia.  Pada awalnya kasus penyakit ini disebut sebagai Swine Influenza atau Flu Babi  karena memiliki karekteristik genetik yang mendekati virus flu babi dibandingkan dengan flu manusia. Namun istilah Flu Babi dianggap tidak sesuai karena menurut Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) virus influenza A (H1N1) yang saat ini sedang mewabah ditularkan dari manusia ke manusia dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa virus ini terdapat di babi ataupun bahwa manusia tertular penyakit ini dari babi (OIE 2009). Oleh karena itu, penyakit ini sekarang disebut sebagai influenza A (H1N1).

CIVAS STATEMENT ON INFLUENZA A (H1N1)

Since mid April 2009, the world has been shocked by the outbreak of influenza H1N1 in humans. In the beginning, this disease was called Swine Influenza because it is genetically closer to swine influenza viruses than human influenza viruses. But the term Swine Influenza was considered inappropriate because according to the World Animal Health Organization (OIE) the virus that is currently causing the outbreak, influenza A (H1N1), is purely transmitted from human to human and there is no evidence so far that it is present in swine or that humans are contracting the disease from swine (OIE 2009). Therefore, it is now referred to as influenza A (H1N1).

Dokter Hewan dan Peternak, Sebuah Kerjasama yang Saling Menguntungkan

Era ini, lebih dari sebelumnya, telah terjadi berbagai wabah penyakit hewan, yang juga dapat ditularkan ke manusia (zoonosis), sehingga mengakibatkan pergolakan sosial dan ekonomi dunia, dan menyebabkan kepanikan baik di tingkat national, regional maupun global. Krisis baru-baru ini menggambarkan bagaimana permasalahan penyakit hewan yang serius dapat mempunyai dampak global pada ekonomi masyarakat, konsumen, dan merupakan ancaman besar bagi kesehatan masyarakat.
Dalam konteks organisme sebagai agen penyakit, diidentifikasi ada 1.415 spesies yang mampu menular ke manusia, terdiri dari 217 virus dan prion, 538 bakteri dan ricketsia, 307 jamur, 66 protozoa dan 287 jenis cacing. Dari jumlah 1.415 spesies tersebut diatas 868 (68%) diklasifikasikan sebagai agen penyebab zoonosis dan 175 spesies patogen diasosiasikan dengan penyakit baru. Dari kelompok 175 patogen yang baru muncul ini, 132 (75%) adalah agen penyebab zoonosis (Cleaveland et al, 2001).

Veterinarians and livestock farmers, a winning partnership

In this era, more than before, there have been many animal disease outbreaks. Some of the diseases could be transmitted to human (zoonoses) causing turbulence in global social and economy and generating panic at national, regional and even global level. These recent crises illustrate how serious animal health issues could globally influence the economy and consumers, and that it is a relevant threat to public health. 

In the context of organism as disease agents, 1,415 species have been identified to cause disease in humans, comprising of 217 kinds of viruses and prion, 538 kinds of bacteria and rickettsias, 307 kinds of fungi, 66 kinds of protozoa, and 287 kinds of worms. From 1,415 species, 868 species (68%) are classified as zoonoses and 175 species of pathogens are associated with new diseases. From the group of 176 new emerging pathogens, 132 species (75%) are zoonoses (Cleaveland et al, 2001).

Rintis konsep "one health" untuk melawan penyakit zoonosis

Perkembangan dunia saat ini mengarah kepada pentingnya konsep baru 'one world, one medicine, one health' untuk diperkenalkan secara luas dan berkesinambungan. Para pakar di banyak negara menghimbau kerjasama yang lebih terintegrasi dan sinergis antara dokter hewan dan dokter dalam mengantisipasi kebangkitan penyakit-penyakit zoonosis yang berpotensi epidemik.
Sampai dengan saat ini, kedokteran dan kedokteran hewan tetap dipandang sebagai sektor dan identititas yang terpisah di hampir semua negara. Yang jelas dokter hewan tidak diperkenankan secara hukum untuk mengobati manusia dan dokter boleh dikatakan hampir tidak pernah mengobati hewan. Meskipun pada kenyataannya, ada banyak hal-hal yang tumpang tindih antara kedua sektor ini, terlebih lagi apabila menyangkut kesehatan masyarakat dan pengendalian penyakit-penyakit yang bisa ditularkan ke manusia (zoonosis)

Start the ‘One Health’ Concept to Fight Against Zoonotic Diseases

The newest global development is heading towards the importance of widely and continuously introducing a new concept, ‘one world, one medicine, one health’. Experts in many countries demand a more integrated and synergized cooperation between veterinarians and doctors to anticipate the emergence of zoonotic diseases with epidemic potentials.

Until this day, human medicine and veterinary medicine are still seen as two separated sectors or entities almost in all countries. Obviously veterinarians by law are not allowed to treat humans and doctors almost never treat animals. But in reality, there are many overlapping between these two sectors, moreover on issues concerning public health and control of animal diseases that could be transmitted to human (zoonoses).