Friday, 18 April, 2014       Login | Register

1st International Congress South East Asia Veterinary School Association (SEAVSA) Dalam Menjawab Tantang Dunia Pendidikan Veteriner Untuk Kesehatan Hewan dan Produksi untuk Meningkatkan Kualitas Hidup di ASEAN

Bogor, 20 Juli 2010.  Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau dikenal dengan sebutan OIE /WAHO, pada Oktober 2009 mengadakan pertemuan Dekan dari Sekolah/Fakultas Veteriner/Kedokteran Hewan di Dunia.  Salah satu hasil dari pertemuan tersebut adalah merekomendasikan untuk setiap Negara atau Negara-negara disuatu kawasan membuat sebuah Institusi Veteriner yang dapat melakukan sertifikasi yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan integritas dan kerjasama Negara-negara di suatu kawasan.  Dalam menindaklanjuti rekomendasi tersebut maka pada tanggal 7 Desember 2009,  Fakultas Kedokteran Hewan di ASEAN membuat suatu Asosiasi yang disebut South East Asia Veterinary School Association (SEAVSA) di Putra Jaya, Malaysia.

Dalam melakukan inisiasi tantangan global dari perspektif veteriner, SEAVSA menyadari pentingnya posisi SEAVSA dalam memberikan jawaban untuk pelayanan veteriner dalam edukasi melalui kerjasama dan kontribusi diantara fakultas kedokteran hewan di ASEAN.   Untuk pertama kalinya SEAVSA mengadakan kongres yang diadakan di Bogor pada tanggal 20-22 Juli 2010 dengan tuan rumah Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor membawa tema “Menjawab Tantangan Dunia Pendidikan Veteriner Untuk Kesehatan Hewan dan Produksi untuk Meningkatkan Kualitas Hidup di ASEAN”  membahas 4 topik utama yang berhubungan dengan edukasi veteriner dan profesi yaitu riset biomedis, kesehatan masyarakat veteriner, zoonosis dan keamanan pangan, kesehatan hewan, ecohealth  dan produksi ternak.
Dari kongres ini diharapkan terjalin komunikasi diantara dokter hewan, professional dan peneliti yang terkait dalam bidang masing-masing untuk mengkomunikasikan ide-ide dan pengetahuan dan isu-isu terkini dalam bentuk tulisan ilmiah. Selain itu pada kongres ini juga akan dilakukan pertemuan antar dekan-dekan fakultas kedokteran hewan di ASEAN dalam membahas kerjasama antar fakultas dalam meningkatkan kualitas pendidikan demi meningkatnya  pelayanan veteriner kepada masyarakat.
1st International Congress SEAVSA ini dibuka pada hari selasa tanggal 20 Juli 2010 oleh pembantu rektor 1 IPB atas nama Rektor IPB yang berhalangan hadir dikarenakan ada kepentingan lain.  Setelah  pembukaan  kemudian  acara dilanjutkan acara plenary yang menghadirkan beberapa narasumber yaitu Direktur Kesehatan Hewan Dr. Agus Wiyono, yang mewakili Direktur Jenderal Peternakan, pembicara ke-2 adalah Presiden SEAVSA Dr. Bashir Ahmad Fateh Mohamed, kemudian dilanjutkan oleh Wakil dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Kasetsart, Thailand Dan Dr Gradner Murray dari OIE Subregional Representative for South East Asia.
1st International Congress SEAVSA yang dilaksanakan selama 3 hari ini (20- 22 Juli 2010) ini dihadiri oleh berbagai macam institusi yaitu 10 fakultas kedokteran hewan anggota SEVASA, institusi pendidikan di ASEAN dan berbagai institusi veteriner lainnya seperti lembaga penelitian, perusahaan, sampai dengan organisasi non pemerintah.
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) sebagai satu-satunya Organisasi non Pemerintah di Indonesia (LSM/NGO) yang fokus dalam bidang kesehatan hewan, kesejahteraan hewan dan keamanan pangan turut serta dalam kongres ini dengan melakukan oral presentasi 3 studi yang pernah dilakukan oleh CIVAS dengan Indonesian-Dutch Bilateral project for Avian Influenza Control in Indonesia, yaitu tentang “Seasonal Impact on Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) in Chicken Coming to Poultry Collecting Facilities (PCFs) in Jakarta”  yang dipresentasikan oleh Andri Jatikusumah, “Avian Influenza Detection in Incoming Chickens and The Environment of Poultry Collecting Facilities (PCFs) in DKI Jakarta” yang dipresentasikan oleh Albertus Teguh Muljono dan “Antibody Responses to Avian Influenza Vaccination in Broiler Chickens in Indonesia”  yang dipresentasikan oleh Erianto Nugroho.
Pada studi yang dipresentasikan oleh Andri Jatikusumah menerangkan tentang relasi musim di Indonesia yaitu musim hujan dan musim kemarau dan relasinya dengan terjadi kasus HPAI yang terdeteksi di Tempat Penampungan Ayam (TPnA). Dari hasil studi disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata secara statistik antara kasus HPAI yang ditemukan pada musim hujan dan musim kemarau meskipun persentase jumlah kasus HPAI pada musim hujan lebih tinggi jika dibandingkan dengan musim kemarau dan terjadi lonjakan kasus pada perubahan musim.  Sedang studi yang dipresentasikan Albertus Teguh Muljono menjelaskan bahwa sekitar 80% TPna yang terlibat dalam studi terdapat sirkulasi virus AI. Virus AI tersebut ditemukan pada ayam yang datang ke TPnA, lingkungan dan ayam sentinel.  Sedangkan untuk antibody yang dideteksi menunjukan 69,4%  ayam afkir di TPnA mempunyai titer antibody yang lebih dari > 2 Log 4.  Dan secara umum ayam-ayam yang terinfeksi di TPnA di Jakarta berasal dari Lampung, Jawa Tengah, dan Provinsi Yogyakarta.   Studi yang dipresentasikan CIVAS mengenai vaksinasi AI pada broiler di Indoensia yang dipresentasikan oleh Erianto Nugroho menyimpulkan bahwa vaksinasi pada broiler yang dilakukan pada hari 1,7,10 atau 14 dengan vaksin inaktif HPAI tidak menunjukkan rataan titer antibody yang dianggap protektif, untuk itu studi lanjutan diperlukan yang dikombinasikan dengan challenge test (skala Laboratorium) untuk melihat efektifitas vaksinasi yang lebih akurat.
Studi-studi lainnya yang dipresentasi dan dibuat poster secara keseluruhan adalah berjumlah 45 oral presentasi dan 50 poster studi dengan 10 keynote speaker pada saat plenary.  Secara keseluruhan acara pertama kongres Internasional bagi asosisasi yang masih muda ini sangat sukses hal ini terbukti dengan banyak peserta yang menghadiri dan berbagai macam informasi yang diberikan pada kongres ini.
Akhir semoga 1st International Congress SEAVSA dapat meningkatakan integritas dalam pemahaman, perspektif baru dan dapat terjalin komunikasi antar professional dan berbagai institusi pendidikan dalam menjawab tantangan dunia pendidikan veteriner untuk kesehatan hewan dan produksi untuk meningkatkan kualitas hidup di ASEAN.