Wednesday, 08 February, 2012       Login | Register

Pembangunan Itu Korbankan Harimau

Jambi - Pembangunan jalan baru yang menghubungkan Kota Bangko dan Kota Sungai Penuh di Provinsi Jambi saat ini tengah berlangsung. Pembangunan itu sangat dinanti-nantikan masyarakat karena di sepanjang jalan yang lama kerap terjadi longsor. Belakangan baru diketahui bahwa pembangunan jalan baru telah mengganggu ketenteraman satu keluarga harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).
Pemerintah Provinsi Jambi membuka jalan hampir 20 kilometer secara bertahap sejak dua tahun lalu. Pengerjaannya kini sudah lebih dari 50 persen. Sejumlah bukit yang berdekatan dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dibelah dan dikeruk demi pembangunan.

Akhir tahun 2009, pemerintah dan aktivis lingkungan baru menyadari bahwa bukit-bukit yang dibuka menjadi jalan baru itu merupakan ruang jelajah harimau sumatera.
Seekor induk bersama dua anaknya yang baru lahir didapati warga Kecamatan Muara Imat, di perbatasan Kabupaten Merangin dan Kabupaten Kerinci, berkeliaran di jalan. Terkadang mereka berada di sekitar permukiman atau di lembah perbukitan. Warga juga melihat seekor harimau jantan.
Binatang buas itu tidak mengganggu manusia, tetapi sekali-sekali memangsa hewan peliharaan warga. Ketika duduk di tepi jalan, keluarga harimau pun tak mengganggu pengendara yang melintas.
Namun, keberadaan harimau mengusik ketenangan masyarakat. Sejumlah warga yang belum lama ini membangun warung di tepi jalan baru resah dan tidak berani keluar rumah. Mereka tidak berani berladang dan mendesak petugas Balai Besar TNKS menangkap harimau.
Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar TNKS Agus Sitepu mengatakan, atas desakan masyarakat, pihaknya telah memasang perangkap. Harimau sempat masuk ke dalam perangkap pada pertengahan Maret, tetapi terlepas kembali sebelum direlokasi ke dalam hutan.
Dian Risdianto, Manajer Lapangan Tiger Protection and Conservation Unit, program kerja sama Flora Fauna Indonesia (FFI) dan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, mengatakan, konflik harimau dan masyarakat dimulai pada Oktober 2009.
Konflik terus meningkat dan mendorong perburuan liar. Pihaknya tiga kali mendapati jerat harimau di perbukitan itu.
Pembangunan jalan di satu sisi mempermudah akses antardaerah dan mengangkat perekonomian. Namun, pembangunan juga mengorbankan habitat satwa liar. Satu keluarga harimau itu kini terancam oleh aksi perburuan di kawasan yang merupakan ruang jelajah satwa itu.
Relokasi anak
Pihaknya mengupayakan penyelamatan harimau. Atas rekomendasi sejumlah pakar, diperoleh kesimpulan untuk tidak merelokasi induk betina dan pejantan. Pemindahan harimau dewasa dinilai tidak akan efektif meredakan konflik karena ruang jelajah yang kosong bakal diisi harimau dewasa lain. Relokasi akan dilakukan pada anak harimau, tetapi menunggu keduanya lepas dari menyusu pada induknya.
Konflik juga hanya akan reda jika masyarakat diberi edukasi mengenai cara hidup dalam habitat harimau sumatera. "Manusia yang membangun di area jelajah harimau sehingga mereka harus menyesuaikan demi keselamatan diri," ujar Dian.
Masyarakat dapat berladang, tetapi jangan terlampau sore. Mereka juga jangan sering keluar rumah malam hari karena harimau cenderung aktif pada waktu itu. (Irma Tambunan)
Sumber : Kompas.com