Warga Brojol Positif Antraks
Sragen - Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarya memastikan gejala bengkak dan melepuh di sejumlah bagian tubuh yang dialami 13 warga dua dusun di Desa Brojol, Kecamatan Miri, Sragen karena tertular bakteri antraks.
Keadaan memprihatinkan itu terjadi setelah mereka mengonsumsi daging sapi yang mati mendadak.Kepastian itu didasarkan pada uji laboratorium menggunakan sampel jerohan, kotoran sapi, tanah di lokasi penyembelihan, serta peralatan yang sempat dipergunakan saat pemotongan daging sapi.
Kepala Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta Ahmad Junaedi mengutarakan, uji laboratorium dilakukan dengan teliti dan menggunakan prosedur uji laboratorium internasional.” Kami sudah sangat hati- hati menguji sampel.Dan hasilnya sudah dipastikan positif antraks.
Tidak ada keraguan lagi,”katanya saat mendatangi Desa Brojol bersama wakil bupati Sragen Daryanto, dan Tim Subdit Surveillance Kementerian Kesehatan kemarin. Menurut dia, bakteri antraks yang menjangkiti sapi akhirnya menular ke dalam tubuh warga. Lalu, berangsurangsur menjadi kuman.
Akibatnya, warga yang melakukan kontak dan memakan daging sapi mengalami meriang dan gatal-gatal di beberapa bagian tubuh hingga akhirnya membengkak dan melepuh. ”Gejala penularan dari sapi ke tubuh manusia memang seperti itu.Makanya ini harus ditangani serius.Sejak kasus terakhir sampai 14 hari, seluruh hewan ternak yang ada di lokasi kejadian harus dilokalisir, tidak boleh lalu lintas keluar masuk.
Selain itu,upaya vaksinasi juga harus dilakukan,” tandasnya. Junaedi juga meminta Pemkab Sragen tidak perlu lagi menutup- nutupi kasus tersebut agar bisa segera dilakukan langkah- langkah preventif. Sehingga serangan bakteri antraks tidak meluas ke wilayah lainnya di Sragen dan sekitarnya.
”Hasil laboratorium ini Senin akan segera kami sampaikan ke pemkab dan propinsi.Ini harus segera diumumkan,”ujarnya. Sementara itu,Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Sragen Suhudi mengatakan, Disnakan tetap menunggu hasil uji laboratorium secara tertulis untuk memastikan gejala yang dialami warga diakibatkan bakteri antraks.
”Kita menunggu hasil uji lab secara tertulis.Kita juga belum bisa melakukan vaksinasi karena saat ini masih dalam proses pemberian antibiotik. Namun upaya itu dalam waktu dekat tetap akan dilakukan,” katanya kemarin. Ditanya apakah Disnakan segera menentukan kasus serangan antraks sebagai kejadian luar biasa (KLB) setelah ada hasil laboratorium,Suhudi mengatakan,penentuan status KLB bukan wewenang daerah tapi pusat.
Kepala Puskesmas Miri Agus Giyarto mengatakan, meski kondisi warga yang terjangkit bakteri antraks sudah membaik, pihaknya masih melakukan pemantauan dan pemeriksaan hingga beberapa hari ke depan. (farid firdaus)
Sumber : Seputar Indonesia

