Vaksin Amat Beragam, Agar Efektif Perlu Didukung "Biosecurity"
Jakarta, Kompas - Saat ini di Indonesia terdapat 18 jenis vaksin, di antaranya diimpor dari berbagai negara. Hal tersebut dapat memicu terjadinya pandemi karena vaksin yang diberikan tidak tepat sehingga tidak terjadi imunisasi.
Pemerhati masalah flu burung, Mangku Sitepu, di Jakarta, Rabu (7/1), mengatakan, ”Saat ini ada 18 merek vaksin. Ada yang memakai H5N2, H5N9, H5N1, dan banyak lagi. Ini tidak benar sebab jika vaksin tidak sesuai jenis virus, imunitas tidak akan terjadi.” Di setiap negara terdapat jenis virus tertentu sehingga butuh vaksin tertentu pula untuk menanggulanginya. Beragam vaksin di Indonesia didatangkan dari berbagai negara, antara lain Perancis, Meksiko, dan China. Jika vaksin tak sesuai, ayam yang terinfeksi virus akan tetap tampak sehat. Virus bisa bermutasi. ”Virus dalam tubuh ayam akan keluar bersama feses dan itu bisa menular ke manusia,” katanya.
Ketua Pelaksana Harian Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza Bayu Krisnamurthi, Rabu (7/1) di Jakarta, menyatakan hal sama.
Dia mengakui, ada sejumlah kendala, di antaranya banyaknya jenis vaksin yang beredar dan belum ada yang dinyatakan paling efektif. ”Sistem vaksinasi masih lemah, bagaimana mendistribusikan, dan jumlah tenaga vaksinator tak memadai,” katanya.
Meski kurang efektif, menurut Mangku, tak berarti vaksinasi dihentikan, melainkan harus dicari penyebabnya.
Menurut dia, virus flu burung pada unggas ditemukan tahun 1878 dan baru menular ke manusia di Hongkong tahun 1997. Di Indonesia, virus flu burung pada unggas ditemukan pertama kali tahun 2005 dan 21 bulan kemudian sudah ada penularan ke manusia. Di Indonesia, proses menjadi zoonosis amat cepat.
”Biosecurity”
Vaksinasi dan biosecurity merupakan dua sisi keping mata uang. Vaksinasi akan berjalan efektif jika ”satpam biologi” dalam bentuk prosedur pengamanan mencegah masuknya sumber virus dan menjaga kontak dengan unggas terinfeksi berjalan dengan baik.
Demikian dikatakan Ketua Dokter Hewan Perunggasan Indonesia yang juga dosen pada Patologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Charles Rangga Tabbu, dari Yogyakarta. Charles yang juga anggota panel ahli Komnas FBPI mengatakan, pada prinsipnya vaksinasi tidak bisa mencegah infeksi karena tetap ada virus yang tersisa (virus shedding).
”Karena itu, vaksinasi harus didukung biosecurity yang tepat agar bisa menghilangkan virus shedding,” kata Charles.
Sementara itu, 50 peternak dari Kelompok Peternak Rakyat Ayam Kampung Sukabumi (Kepraks) menyerahkan 10.000 dosis vaksin flu burung menyusul keputusan Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) menghentikan penggunaan vaksin.
Vaksin diserahkan Ketua Kepraks Mahmud Daood bersama dengan beberapa anggotanya kepada Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi Asep Sugiyanto. Vaksin yang dikembalikan yaitu vaksin Medivac H5N1 dan H5N2. (EVY/MAS/AHA)
Sumber: Kompas
Related News
- Flu Burung : Tingkatkan Kualitas Lingkungan Peternakan
- Flu Burung : Peternak Ayam Lokal Hentikan Vaksinasi pada Unggas
- Kaji Ulang Vaksinasi : Belum Ada Vaksin Flu Burung yang Efektif
- AI Tak Terdeteksi, Gejala Klinis Flu Burung Tak Spesifik Lagi
- Perguruan Tinggi Perlu Dilibatkan, Perlu Dilakukan Uji Tantang Untuk Vaksin

