kamis, 09 Februari 2012      Login | Register

Ratusan Unggas Mati Mendadak Peraturan Gubernur Banten Mandul

Serang, Kompas - Ratusan unggas milik warga di tiga kecamatan di Kota Serang, Banten, mati mendadak. Bahkan, setelah mengetes beberapa sampel bangkai disimpulkan, sebagian unggas mati karena terinfeksi virus flu burung. Kematian unggas secara mendadak itu salah satunya terjadi di Desa Kemanisan, Kecamatan Curug, Kota Serang, Banten. Hari Rabu (18/2) sore, seekor ayam milik Habudin, warga Kampung Waru Kidul, mati mendadak. Bahkan, warga lain bernama Imron sudah kehilangan 12 ekor ayam dalam kurun waktu kurang dari satu pekan. ”Terakhir tadi pagi mati satu, jumlah yang mati sudah 12 ekor,” katanya. Kondisi itu juga dialami beberapa warga lain di Kampung Waru Kidul. Dari data yang dihimpun Dinas Pertanian Kota Serang diketahui, sudah 120 ekor ayam milik warga di kampung itu mati mendadak.

Hasil tes yang dilakukan petugas Penanggulangan Flu Burung pada Dinas Pertanian Serang diketahui, ayam milik warga mati mendadak karena terinfeksi flu burung. ”Hari Senin kemarin kami tes salah satu sampel bangkai ayam. Hasilnya positif sehingga bisa disimpulkan, kematian unggas di kampung ini disebabkan oleh virus flu burung,” ujar Danang Turniatmadji dari tim penanggulangan flu burung Dinas Pertanian Kota Serang.
Virus flu burung juga ditemukan pada ayam yang mati mendadak di Desa Sukajaya, Curug. Sedikitnya 24 ayam milik warga Kampung Gowok Masjid dilaporkan mati mendadak karena terjangkit flu burung.
Unggas milik Munir, warga Kampung Pasir Huni, Desa Pancalaksana, Curug, juga mati mendadak. Namun, dia tak mengetahui penyebab kematian karena belum ada pemeriksaan. ”Bulan lalu tiga ayam yang mati, dua hari kemarin ada satu. Tiba-tiba jatuh dan mati, enggak tahu sebabnya. Tetapi memang paruhnya keluar busa,” kata buruh bangunan itu.
Selain Kecamatan Curug, kematian unggas secara mendadak juga terjadi di Desa Kalodran dan Kepuren, Kecamatan Walantaka. Sedikitnya 140 ekor ayam milik warga di sana mati karena diduga terkena flu burung. ”Kami katakan suspect karena tidak ada bangkai unggas yang bisa kami tes,” ujar Danang.
Begitu pula puluhan bebek milik warga Desa Trumbu dan Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen. Namun, petugas belum bisa melakukan tes karena bebek keburu dijual ke pasar.

Pergub mandul
Sebenarnya, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah sudah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Penanggulangan Flu Burung. Namun, Pergub Nomor 1 Tahun 2007 itu mandul karena masih banyak dilanggar warga.
Berdasarkan pantauan, masih banyak warga yang membiarkan ayam berkeliaran di sekeliling rumah. Padahal, pergub mengatur, ayam harus dipelihara di dalam kandang. Selain itu, masih banyak ayam yang diangkut dengan menggunakan keranjang terbuka meski sebenarnya dilarang pergub.
Sementara untuk menanggulangi merebaknya virus flu burung, Dinas Pertanian Serang sudah memberikan cairan disinfektan kepada warga. Selain itu, mereka juga melakukan penyuluhan mengenai cara penanggulangan sekaligus penanganan unggas yang terkena flu burung. Dengan demikian, diharapkan virus flu burung tidak akan menular ke manusia. (NTA)
Sumber : Kompas