Peternak Sulit Naikkan Produksi
Boyolali -Peternak sapi perah di Boyolali, yang memproduksi sekitar 70 persen susu murni di Jawa Tengah, sulit menaikkan kuantitas dan kualitas. Peternak berhadapan dengan kebijakan industri pengolahan susu yang menurunkan harga dan menetapkan kuota penyerapan. ”Pembatasan penyerapan susu dengan menetapkan kuota membuat peternak menjadi khawatir sulit menaikkan produksi susu. Kalau dengan jumlah produksi sekarang saja sudah agak sulit terserap, apalagi kalau produksinya naik,” kata Ketua Peternak Sapi Perah Desa Sukorejo, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Sarono, Minggu (9/8).
Kondisi itu, menurut Sarono, juga diperparah dengan penurunan harga beli susu dari industri pengolahan susu. Harga susu turun dari rata-rata Rp 3.000 menjadi Rp 2.700 per liter. Padahal, peternak sudah berupaya meningkatkan kualitas susu hingga memenuhi standar yang ditetapkan industri pengolahan susu, antara lain padatan (total solid) di atas 11 persen dan lemak (fat) di atas 3,4 persen.
Padmoslameto (72), peternak di Sukorejo, menyebutkan, harga pembelian itu sangat menyulitkan, apalagi saat musim kemarau. Seekor sapi membutuhkan pakan sekitar Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per hari. Biaya membengkak saat musim kemarau karena ditambah harus membeli air Rp 70.000 per tangki isi 5.000 liter. Air itu hanya cukup untuk minum delapan sapi miliknya selama 10 hari.
Stagnasi produksi
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Boyolali Dwi Priyatmoko mengatakan, saat ini mulai ada kecenderungan stagnasi produksi dan populasi sapi perah pascakebijakan industri pengolahan susu menurunkan harga beli susu. Padahal, produksi susu Boyolali sempat melonjak sejak akhir tahun 2006 setelah harga pembelian susu naik.
Dari sekitar 59.000 sapi perah di Boyolali, produksi susu 91,16 ton per hari. Produksi itu membaik dibandingkan sebelum 2006 yang sekitar 70 ton per hari. Saat itu harga susu rendah sehingga peternak memilih menggemukkan sapi. Dwi khawatir kondisi ini kembali berulang jika tak ada perbaikan harga.
”Bagaimana peternak lokal mau bersaing kalau mereka dibiarkan bertarung dengan susu impor yang di negara asalnya mendapat subsidi. Belum lagi, peternak lokal masih tradisional dengan jumlah sapi sedikit, sekitar 2 ekor per petani. Padahal, titik impasnya antara 4 ekor dan 6 ekor,” kata Dwi. (GAL)
Sumber: Kompas

