Jumat, 10 Februari 2012      Login | Register

Pemerintah Menyatakan Flu Burung Sudah Terkendali

Pemerintah menyatakan berhasil dalam usahanya mengatasi flu burung meskipun hampir setengah korban yang meninggal akibat flu burung di dunia berasal dari Indonesia.
Bayu Krisnamurthi, Ketua Pelaksana Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Influenza (Komnas FBPI) pada hari Rabu mengatakan bahwa meskipun Indonesia paling banyak memiliki kasus kematian akibat flu burung, “jumlah keseluruhan kasus yang dilaporkan terus menurun”.

Sejak virus flu burung pertama muncul tahun 2003, 138 orang telah meninggal akibat infeksi flu burung di Indonesia sementara di dunia angka kematiannya kurang dari 300 orang. Pada tahun 2006, lebih dari 40 warga Indonesia meninggal akibat virus H5N1.
Namun untuk 2009 hanya ada 13 kematian yang dikonfirmasi disebabkan flu burung, angka kematian terendah sejak 2005. “Virus flu burung terkadang masih ditemukan di unggas dan sesekali di manusia, namun masyarakat sekarang sudah tahu bagaimana harus menganggulanginya,” kata Bayu.
Bayu berkata meningkatnya kesadaran merupakan bukti bahwa kampanye yang dilakukan pemerintah berjalan dengan baik dan masyarakat mulai belajar bagaimana mencegah penularan penyakit dan apa yang harus dilakukan bila terjadi wabah flu burung.
Bayu menyatakan hal tersebut untuk lebih mengintegrasikan program-program yang terkait dengan penyakit hewan yang dapat ditularkan ke manusia, dikenal juga sebagai penyakit zoonosis. Komnas FBPI akan digantikan dengan Komite Nasional Zoonosis (Komnas Zoonosis) saat mandatnya habis pada tanggal 13 Maret nanti.
“Yang kita perlukan saat ini adalah posisi yang lebih kuat untuk tidak hanya mengeluarkan rekomendasi, tetapi untuk bertindak sesuai dengan rekomendasi tersebut,” katanya, menambahkan bahwa hal-hal lain yang lebih rinci, seperti anggaran yang baru, baru akan dibahas kemudian.
Sementara itu, Chairul Anwar Nidom, virolog di Tropical Disease Center di Universitas Airlangga Surabaya mengatakan pernyataan pemerintah atas keberhasilan mengendalikan flu burung masih terlalu prematur.
“Ini semua tergantung bagaimana kita mendefinisikan kata sukses,” katanya. “Jika diartikan sebagai tercapainya kemajuan, maka iya, kita cukup sukses, tetapi bila artinya flu burung di Indonesia sudah benar-benar terkendali, maka tidak, kita masih jauh dari sukses.”
Nidom berkata bahwa meskipun angka kematian manusia telah menurun di 2009, virus tersebut tetap endemic pada unggas di seluruh Indonesia.
“Selama virusnya masih ada di Indonesia, masih ada kemungkinan manusia dapat terinfeksi setiap saat,” katanya.
Nidom mengatakan bahwa flu burung dapat bertahan di Indonesia sebagian karena program pemerintah yang dibuat untuk memerangi flu burung kurang terorganisir dan efisien.
“Setiap kementrian bekerja terpisah, padahal harusnya mereka bekerja sama,” katanya.
“Flu burung merupakan isu yang sangat kompleks karena mempengaruhi baik sektor kesehatan maupun ekonomi.”
Menurut Nidom, kelanjutan dari Komnas FBPI seharusnya diberi kewenangan lebih luas untuk membuat kebijakan dan langsung melaksanakannya di lapangan.

Sumber : Jakarta Globe