Pakar Rabies Bangkok: Vaksinasi Rutin Cegah Rabies
Bogor - Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia (IMAKAHI) Cabang Institut Pertanian Bogor (IPB) mencoba mencari jalan keluar untuk mengatasi ganasnya virus Rabies yang melanda Pulau Bali, lewat seminar nasional “Strategi Menghadapi Masalah Zoonosis dan Foodborne Disease.”
Acara yang mendatangkan drh. Tri Satya Putri Naipospos, Mphil,PhD dari OIE Regional Coordination Unit, Bangkok, Thailand itu digelar di kampus IPB Darmaga, Minggu (21/12).
Anggota panitia penyelenggara seminar ini, mengungkapkan, latar belakang diangkatnya tema ini karena kasusnya sangat urgen untuk segera mendapatkan solusi.
Diungkapkan, kasus Rabies terbaru di Bali sampai 24 November 2008 mengakibatkan empat orang meninggal dunia. Sedang jumlah orang yang digigit anjing mencapai 18 orang. Oleh karena itu pemerintah menyatakan Pulau Bali berstatus daerah wabah Rabies. Pernyataan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Anton Apriyantono pada 1 Desember 2008.
Sementara itu Naipospos di muka peserta seminar, mengungkapkan, Rabies manusia menempati urutan ke-7 di antara penyakit-penyakit menular. Tetapi kematian akibat Rabies bisa dicegah. Naipospos mengatakan, Rabies disebabkan oleh virus, jika hewan tertular Rabies menggigit manusia, virus akan masuk dan tertular Rabies. Lebih dari 99 persen kasus Rabies pada manusia disebabkan oleh gigitan anjing. Tanpa perlakuan khusus, peluang meninggalnya 100 persen. Hampir separuh dari seluruh kematian terjadi pada anak-anak di bawah umur 15 tahun.
Di Eropa dan Amerika Utara, kasus Rabies pada manusia maupun hewan tidak menjadi masalah lagi. Hal ini karena diwajibkan vaksinasi anjing secara rutin. Sehingga strain virus spesifik pada anjing sudah menghilang di negara-negara tersebut. Saat ini Rabies Rabies hanya ditemukan di hewan liar seperti serigala, rubah, kelelawar, dan sebagainya.
Walaupun 100 persen kematian manusia karena Rabies dapat dicegah, tapi setiap tahun 50.000 orang di dunia meninggal karena Rabies. Lebih dari 99 persen kasus meninggalnya manusia karena Rabies terjadi di negara-negara berkembang di Asia dan Afrika.
Negara-negara di Asia yang masih menjadi endemik Rabies dengan peningkatan perubahan yang lambat diantaranya India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, Srilangka, Myanmar, Indonesia dan Philippina. Sedang Indonesia tidak bisa memberantas Rabies karena Rabies hanya dianggap prioritas rendah, baik oleh kesehatan masyarakat maupun kesehatan hewan. Sumber utama Rabies sendiri adalah anjing domestik. Anjing yang ada di masyarakat tidak ada registrasi anjing, tidak ada tali atau rantai anjing, dan vaksinasi anjing hanya sedikit. Selain itu Indonesia sulit mengendalikan Rabies kareana tidak mempunyai informasi cukup tentang ekologi anjing (dog ecology) dan besaran populasi anjing. Indonesia juga tidak punyai sumberdaya memadai untuk vaksin anjing dalam jumlah memadai.
Pencegahan Rabies pada anjing dilakukan dengan memberikan vaksinasi. Vaksinasi Rabies cepat dan mudah. Cukup vaksinasi 70 persen telah dibuktikan berhasil mencegah terjadinya wabah pada 96,5 persen kasus. Sementara WHO mempunyai visi global yaitu dengan mengurangi angka Rabies pada manusia yang disebarkan oleh anjing. Untuk menyampaikan kepada masyarakan informasi yang dibutuhkan untuk ikut membantu memberantas Rabies maka ada ”World Rabies Day” setiap 28 September.
Strategi pemberantasan Rabies dapat dilakukan dengan memberikan vaksinasi masal pada anjing dan eliminasi anjing liar, Post Exposure Treatment (PET) pada manusia, dan kampanyr peningkatan kesadaran manusia.
”Cara untuk mengurangi angka penyakit Rabies bisa dilakukan dengan kerjasama antar Departemen Pertanian dan Departemen Kesehatan serta masyarakat,” kata Naipospos./1 osy/kp011
Sumber: kabarpemilu.com

