Musim Pancaroba, Unggas Mati Belum Tentu AI
Jakarta, Kompas - Pergantian musim kerap membuat unggas di sektor empat atau peternak kampung stres. Stres membuat ternak rentan terserang penyakit. Dalam situasi pancaroba, jangan terlalu mudah menyimpulkan unggas mati karena terpapar virus flu burung (AI). ”Virus tetelo memang endemis karena itu sering sekali unggas mati karena tetelo, bukan karena virus flu burung,” ujar Direktur Kesehatan Hewan ad interim yang juga Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Turni Rusli, Senin (23/2) di Jakarta. Pernyataan ini menanggapi berbagai pemberitaan kematian unggas yang diidentikkan dengan flu burung. ”Unggas yang mati karena tetelo gejalanya mirip seperti flu burung,” katanya.
Menurut dia, sifat menular virus flu burung amat kuat dan tak perlu menunggu pancaroba. ”Jangan menyimpulkan sebelum penegakan diagnosa setelah penelitian laboratorium,” katanya.
Selama ini, katanya, pemerintah sudah membangun jaringan sistem pelaporan terhadap unggas yang sakit atau mati. Jika ada unggas peliharaan mati mendadak atau kebetulan ada unggas di wilayah itu menunjukkan gejala flu burung, masyarakat wajib melapor ke dinas terdekat.
Selanjutnya petugas gerak cepat, Participatory Disease Surveillance and Response, akan ke lapangan mengambil sampel dengan menerapkan diagnosa ketat dan hasilnya bisa diketahui dalam sehari. Selanjutnya akan dilakukan penanganan sesuai standar.
”Kami mendata terus karena situasinya berkembang,” kata Turni yang belum bisa menunjukkan data kasus kematian unggas belakangan ini. S ekarang virus tetelo ada di mana-mana.
73 ekor unggas mati
Sebanyak 73 ekor unggas mati mendadak di RT 19 dan 20 RW 2, Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, pada lima hari terakhir karena virus H5N1 (flu burung/AI). Ini merupakan yang keempat kalinya di Madiun tahun ini.
Warga melapor ke anggota DPRD Kabupaten Madiun dari Fraksi PDI-P, Subari, yang melapor ke Dinas Peternakan Kabupaten Madiun. Senin siang, mantri hewan Dinas Peternakan, Tariono, ke lokasi dan mengecek bangkai dengan alat tes cepat. ”Ternyata positif karena virus H5N1,” ujar Tariono. Dia mengajak warga membakar bangkai dan menguburnya.
Hari ini Dinas Peternakan akan menyemprotkan desinfektan di kandang-kandang unggas pada radius 200 meter dari lokasi unggas mati.
Kasus sebelumnya terjadi di Desa Wungu, Kecamatan Wungu; Desa Buduran, Kecamatan Wonoasri; dan Desa Pandean, Kecamatan Mejayan. Total unggas mati sekitar 150 ekor. Puncak kematian karena virus H5N1 terjadi pada 2007, 13.000 ekor. Kemunculan kembali virus itu disebabkan perilaku peternak unggas skala kecil yang sulit mengubah kebiasaan, di antaranya ayam dibiarkan berkeliaran di luar kandang, kandang tidak bersih, dan tidak memvaksin AI secara rutin setahun sekali, padahal tinggal meminta ke dinas peternakan dan diberi gratis.
Daerah Jatim
Laporan kematian unggas juga diterima Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Jember. Menurut Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jember Dalhar, setelah unggas dites, ternyata negatif AI.
Dr Lilik L dari Dinas Kesehatan Jember menambahkan, ”Anggota PMI Siaga Bencana sudah melakukan deteksi dini. Flu burung masuk kategori bencana.” Kasus serupa terjadi di Banyuwangi.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Banyuwangi Satrio Aribowo mengakui, banyak ayam penduduk mati mendadak. Banyuwangi dinilai paling parah ketimbang kabupaten/kota lain di Jatim. (MAS/APA/SIR)
Sumber : Kompas


