kamis, 09 Februari 2012      Login | Register

Korban Gigitan Anjing Membludak, Setelah VAR Kosong selama Seminggu

Tabanan - Pasien tergigit anjing langung membludak di rabies center RSUD Tabanan, Kamis (1/20) kemarin. Mereka tak sabaran untuk mendapatkan vaksin antirabies (VAR) yang kosong sejak seminggu lalu. Saking khawatir tak kebagian vaksin, ada pula warga yang mendaftar sehari sebelumnya.
Pantauan Koran ini di RSUD Tabanan, proses untuk mendapatkan VAR cukup ribet. Setiap vaksin harus melalui sejumlah loket. Pertama kali mendaftarkan di loket 9, khusus untuk rabies. Lebih lanjut, ke loket 1 untuk mengambil les (rekam medik). Setelah itu dilalui, les dibawa ke rabies center (Ruang Flamboyan). Sesampainya di Ruang Flamboyan, warga tidak langsung mendapatkan suntikan VAR. Les yang dibawa langsung diserahkan kepada petugas dan ditumpuk dengan puluhan les pasien lainnya. Warga pun harus bersabar untuk mendapat giliran dipanggil.

Salah seorang warga mengaku sudah sehari sebelumnya mendaftarkan diri. Ini terkait kekhawatiran kalau saja VAR habis lagi lantaran dia mengetahui antrean warga yang menunggu VAR cukup banyak. Namun, ternyata tak dia sendiri. Masih ada 70 warga yang sudah mendaftar sehari sebelumnya juga.
"Dari kemarin (Rabu lalu, Red) saya sudah mendaftar agar dapat lebih dulu," ujar salah seorang pasien sambil menunggu giliran di-VAR.
Kemarin, menurut pengakuan petugas, sekitar 120 pasien mendapatkan VAR. Ada pasien dengan gigitan baru, ada pula yang pasien lama untuk disuntik yang kedua dan ketiga.
Ternyata, ketika dipanggil, warga tidak langsung mendapatkan VAR. Mereka hanya mendapat resep, dan mengambil VAR di Apotek UGD, dan kembali ke rabies center. Setelah itu baru mereka disuntik vaksin antivirus anjing gila ini.
Persediaan VAR di RSUD Tabanan sendiri cukup terbatas. Pasokan dari Dinas Kesehatan hanya 206 vial. Sedangkan pesanan sebanyak 1.260 vial belum diketahui kepastian kapan datang.
Sementara itu, pasien suspect rabies asal Batubulan, Gianyar, I Putu Darmada, 28 yang sempat dirawat di RS Sanglah sejak Selasa (22/9) lalu, kemarin sudah pulang. Diagnosa dokter menyebutkan, pasien mengalami histerical rabies atau ketakutan berlebihan terhadap penyakit mematikan tersebut. Sebab, pasien yang mengalami kesemutan dan kerap gelisah tersebut memiliki riwayat digigit anjing. Namun Darmada sudah pernah mendapatkan vaksin anti rabies (VAR).
Sementara itu, pasien korban gigitan anjing yang berasal dari Tabanan masih terus mengalir ke RS Sanglah. Pemicunya adalah kekosongan VAR di rumah sakit kabupaten Lumbung Beras tersebut. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, hingga pukul 14.30 siang kemarin tercatat ada 80 kunjungan pasien yang meminta VAR ke triage bedah RS Sanglah.
Ni Made Kartika Yanti, 9, misalnya. Bocah asal Banjar Delod Puri, Kediri, Tabanan ini sempat digigit anjing sekitar sepekan yang lalu. Saat itu Kartika sedang bermain di rumah tetangganya. Saat sedang asyik bermain, tiba-tiba anjing peliharaan tetangganya langsung melompat dan mengigit lengan kiri Kartika.
"Untung saja lukanya tidak dalam. Habis digigit itu saya sempat bawa ke dokter biar lukanya dibersihkan dulu. Baru tadi pagi (kemarin, Red) saya antar dia ke RSUD Tabanan untuk minta vaksin. Tapi di sana vaksinnya habis, dan saya dirujuk ke sini," ungkap Susila Wardana, ayah Yanti.
Lain halnya dengan Ni Made Julia Kartika, 7. Bocah yang tinggal di Jalan Nakula 17, Tabanan ini digigit anjing liar saat ia hendak pulang ke rumahnya, setelah sekolah usai sekitar sebulan yang lalu. Tiba-tiba di tengah jalan seekor anjing mengejarnya dan langsung mengigit kaki Kartika.
Sebelumnya Kartika sudah mendapatkan vaksin pertama dan kedua di RSUD Tabanan, namun karena VAR di rumah sakit tersebut habis, maka Kartika terpaksa meminta vaksin ketiga di RS Sanglah.
"Kemarin vaksin pertama dan kedua sudah dapat di Tabanan. Hari ini (kemarin, Red) memang sudah jadwal anak saya dapat vaksin ketiga. Tapi waktu ke RSUD Tabanan katanya vaksinnya habis, dan katanya saya harus minta vaksin di RS Sanglah," ungkap Wayan Darmadi, ayah Kartika. (yor/eps)

Sumber : Radar Bali