Rabu, 08 Februari 2012      Login | Register

Komnas Bakal Berakhir Kalimantan Barat Dinyatakan Bebas Flu Burung

Pontianak - Masa bakti Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza berakhir 13 Maret 2010. Ada dua alternatif pilihan ditawarkan apakah penanggulangan flu burung dilakukan secara organik atau perlu organisasi baru.
Menurut Ketua Pelaksana Harian Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza sekaligus Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi, Senin (25/1) malam di Pontianak, Kalimantan Barat, sampai kemarin soal keberadaan Komnas Flu Burung masih dievaluasi.

Pilihan pertama penanggulangan Flu Burung dimasukkan secara organik dalam sistem birokrasi pada tingkat pusat ataupun daerah. Terkait pandemi influenza masuk dalam Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana, penyakit zoonosisnya masuk Kementerian Pertanian. Tentang keterkaitannya dengan manusia akan diurus Kementerian Kesehatan.
Kemungkinan terlena dapat terjadi karena penanganan flu burung tidak masuk lagi dalam kegiatan yang istimewa. Sistem penanggulangannya bersamaan dengan penyakit zoonosis lain, seperti antraks, rabies, demam berdarah, dan jenis penyakit hewan menular lainnya.
Bayu mengungkapkan, sekitar 60 persen dari penyakit yang ada di Indonesia bersumber dari hewan, antara lain virus HIV, flu burung, flu babi, antraks, rabies, ebola, bahkan demam berdarah. ”Di Bali, wabah rabies bahkan menurunkan kunjungan wisatawan hingga 40 persen,” katanya.
Bila dimungkinkan ada organisasi baru, pihaknya akan mengusulkan Komisi Nasional Penanggulangan Penyakit Zoonosis. ”Komisi ini tak hanya menangani flu burung, tetapi juga penyakit zoonosis lainnya,” katanya.
Menteri Pertanian Suswono, yang juga Wakil Ketua Komnas Flu Burung, memastikan pihaknya akan mengevaluasi penanggulangan flu burung selama ini. Kalau Komnas masih diperlukan, akan diusulkan dilanjutkan.
”Kemarin, kami mendapatkan informasi di sejumlah provinsi bahwa ada yang wilayahnya kembali terjangkit flu burung. Ini menjadi acuan bahwa ternyata flu burung sewaktu-waktu bisa muncul lagi bila tidak dicegah dengan baik,” katanya.
Suswono menyatakan, bila flu burung masih dianggap rawan, dia memperkirakan apa yang dilakukan Komnas Flu Burung merupakan langkah bagus. ”Menteri Pertanian selaku wakil ex officio akan turut memberikan evaluasi dan usulan,” katanya.
Apresiasi Kalbar
Dalam kesempatan sama, Suswono dan Bayu mengapresiasi pemerintah daerah Kalbar yang bersama-sama dunia usaha dan masyarakat mau dan mampu membebaskan wilayah Kalbar dari penyakit flu burung.
Menurut Bayu, hal itu tercipta berkat adanya kemauan, kesungguhan memberantas flu burung, konsistensi pelaksanaan dan kebijakan, adanya kepemimpinan yang tangguh, dan peran serta masyarakat. Sikap ini yang selayaknya diikuti pemangku kepentingan dunia perunggasan di provinsi lain.
Kasus flu burung muncul di Kalbar Februari 2004. Setelah melakukan berbagai upaya, bulan Mei 2004 tidak ditemukan kasus lagi. (MAS)
Sumber : Kompas