Keguguran Badak Sumatera Memperlambat Usaha Penyelamatan Satwa
Gagalnya kebuntingan pertama Ratu, badak Sumatera betina muda di Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Taman Nasional Way Kambas, merupakan pukulan bagi usaha penyelamatan satwa tersebut dari kepunahan.
“Hal ini umum pada kebuntingan pertama badak,” kata Susie Ellis, direktur eksekutif International Rhino Foundation Rabu lalu.
“Meskipun kami sedih dengan kehilangan ini, fakta bahwa kebuntingan berhasil dicapai mengkonfirmasi kalau pekerjaan kami dalam program pengembangbiakan badak Sumatera mengalami kemajuan. Ratu dan badak jantan Andalas keduanya sehat dan telah menghasilkan satu kebuntingan, jadi kami optimis kalau keberhasilan dapat segera tercapai,” katanya.
Ratu dan Andalas diketemukan melalui kerjasama internasional dalam usaha menyelamatkan satwa terancam punah ini. Mereka kawin bulan Januari dan kebuntingan Ratu diumumkan bulan Februari.
Ratu terlahir liar di Indonesia sementara Andalas merupakan badak pertama dari tiga badak Sumatera yang dilahirkan dalam penangkaran dalam jangka waktu 112 tahun. Andalas dilahirkan di kebun binatang di Amerika Serikat sebelum dibawa ke Indonesia tahun 2007.
Populasi badak Sumatera di dunia diperkirakan hanya sekitar 200 ekor di alam liar dan 10 di penangkaran.
“Staf kami sangat kecewa, tetapi fakta bahwa kebuntingan berhasil dicapai memperkuat komitmen kami untuk membantu Ratu dan Andalas berhasil,” kata Dedi Candra, koordinator koleksi satwa SRS.

