Kalbar Dinyatakan Bebas dari Flu Burung
Pontianak - Kalimantan Barat menjadi provinsi pertama yang akan memperoleh sertifikasi bebas dari flu burung dari Kementerian Pertanian. Pemberian sertifikasi itu dipercaya akan memberi efek domino bagi pengembangan industri perunggasan dan pertanian di Kalimantan Barat.
”Keputusan bebas dari flu burung disampaikan Menteri Pertanian beberapa waktu lalu. Rencananya, Menteri akan menyampaikan langsung sertifikasi itu kepada Gubernur Kalbar pada 26 Januari mendatang,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar Abdul Manaf, Senin (11/1).
Dua daerah lainnya yang sudah dinyatakan bebas dari flu burung, sesuai pernyataan Direktur Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian, yaitu Provinsi Maluku Utara dan Provinsi Gorontalo. Kalimantan Barat adalah daerah yang pertama kali lolos untuk sertifikasi.
Status bebas dari flu burung itu, menurut Manaf, mendatangkan konsekuensi bagi Kalbar agar lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap unggas dan produk ternak unggas dari daerah lain yang masuk ke Kalbar.
Pihaknya akan menerapkan pengawasan yang lebih ketat di pintu masuk produk unggas di wilayah perbatasan dan garis pantai.
”Produk unggas dan bibit unggas yang masuk ke Kalbar juga harus dari daerah atau peternakan yang benar-benar bebas dari flu burung,” katanya.
Terakhir kali kasus kematian unggas akibat flu burung di Kalimantan Barat terjadi pada tahun 2005.
Status bebas dari flu burung itu, menurut Manaf, mendatangkan konsekuensi bagi Kalbar agar lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap unggas dan produk ternak unggas dari daerah lain yang masuk ke Kalbar.
Pihaknya akan menerapkan pengawasan yang lebih ketat di pintu masuk produk unggas di wilayah perbatasan dan garis pantai.
”Produk unggas dan bibit unggas yang masuk ke Kalbar juga harus dari daerah atau peternakan yang benar-benar bebas dari flu burung,” katanya.
Terakhir kali kasus kematian unggas akibat flu burung di Kalimantan Barat terjadi pada tahun 2005.
Menjadi basis ekspor
Dengan status tersebut, menurut Manaf, kepercayaan pasar terhadap produk unggas di Kalbar menjadi semakin tinggi. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan bahwa Kalbar ke depan akan menjadi basis ekspor produk unggas dari Indonesia.
Data Diswanak Kalbar menunjukkan, populasi ayam petelur yang dimiliki 60 peternakan di Kalbar mencapai 2,8 juta ekor dengan total produksi 80 ton telur per hari.
Sekitar 20 persen dari produksi telur itu dikirim ke Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah), Jakarta, dan Pulau Serasan (Kepulauan Riau).
Sisanya, sekitar 80 persen untuk memenuhi kebutuhan lokal Kalbar. Adapun produksi daging ayam potong broiler di Kalbar mencapai 1,5 juta ekor per bulan, dengan rata-rata berat ayam mencapai 1,5 kilogram per ekor.
Sekretaris Asosiasi Agribisnis Perunggasan (AAP) Kalbar Bambang Mulyantono mengungkapkan, status bebas flu burung itu akan mendorong daerah penyuplai bibit unggas ke Kalbar untuk juga memiliki status bebas dari flu burung. Sejauh ini bibit unggas Kalbar masih didatangkan dari Jakarta dan Jawa Barat.
”Investasi peternakan unggas di Kalbar diperkirakan juga meningkat,” kata Bambang.
Manaf mengungkapkan, investor yang tertarik tidak hanya yang bergerak di bidang peternakan unggas, tetapi ada juga yang berminat membangun pabrik sosis yang berorientasi pada ekspor.
”Jika industri ternak unggas di Kalbar meningkat, kebutuhan akan jagung, ubi kayu, minyak kelapa, dan minyak sawit yang menjadi bahan baku pakan ternak ikut meningkat. Ini peluang usaha yang bisa berkembang dengan adanya status bebas dari flu burung tersebut,” katanya.(WHY)
Dengan status tersebut, menurut Manaf, kepercayaan pasar terhadap produk unggas di Kalbar menjadi semakin tinggi. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan bahwa Kalbar ke depan akan menjadi basis ekspor produk unggas dari Indonesia.
Data Diswanak Kalbar menunjukkan, populasi ayam petelur yang dimiliki 60 peternakan di Kalbar mencapai 2,8 juta ekor dengan total produksi 80 ton telur per hari.
Sekitar 20 persen dari produksi telur itu dikirim ke Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah), Jakarta, dan Pulau Serasan (Kepulauan Riau).
Sisanya, sekitar 80 persen untuk memenuhi kebutuhan lokal Kalbar. Adapun produksi daging ayam potong broiler di Kalbar mencapai 1,5 juta ekor per bulan, dengan rata-rata berat ayam mencapai 1,5 kilogram per ekor.
Sekretaris Asosiasi Agribisnis Perunggasan (AAP) Kalbar Bambang Mulyantono mengungkapkan, status bebas flu burung itu akan mendorong daerah penyuplai bibit unggas ke Kalbar untuk juga memiliki status bebas dari flu burung. Sejauh ini bibit unggas Kalbar masih didatangkan dari Jakarta dan Jawa Barat.
”Investasi peternakan unggas di Kalbar diperkirakan juga meningkat,” kata Bambang.
Manaf mengungkapkan, investor yang tertarik tidak hanya yang bergerak di bidang peternakan unggas, tetapi ada juga yang berminat membangun pabrik sosis yang berorientasi pada ekspor.
”Jika industri ternak unggas di Kalbar meningkat, kebutuhan akan jagung, ubi kayu, minyak kelapa, dan minyak sawit yang menjadi bahan baku pakan ternak ikut meningkat. Ini peluang usaha yang bisa berkembang dengan adanya status bebas dari flu burung tersebut,” katanya.(WHY)
Sumber : Kompas

