Kaji Ulang Vaksinasi : Belum Ada Vaksin Flu Burung yang Efektif
Jakarta, Kompas - Penggunaan vaksin flu burung pada unggas perlu dikaji ulang. Hal itu karena vaksinasi tersebut ternyata tidak efektif untuk mematikan virus yang ada di dalam tubuh unggas sehingga tidak bisa mengendalikan penyebaran virus itu kepada manusia. Sebagaimana diberitakan Kompas, ratusan peternak anggota Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) mulai menghentikan vaksinasi virus flu burung (AI). Sebab, hasil penelitian Lembaga Swadaya Masyarakat Civas menunjukkan, vaksinasi pada ayam lokal tidak signifikan meningkatkan kekebalan.
Hasil penelitian serupa juga dilakukan peneliti dari Tropical Disease Diagnostic Center Universitas Airlangga, drh CA Nidom. Dalam riset itu, tim peneliti membandingkan antara kelompok ayam yang diberi vaksin AI dan ayam yang tidak diberi vaksin.
Setelah dipaparkan dengan virus AI, ayam yang tak mendapat vaksin langsung mati. Adapun ayam yang divaksin dan terbentuk antibodinya tampak sehat.
Namun ternyata feses (kotoran) ayam yang divaksin itu positif mengandung virus AI sampai hari keenam atau hari terakhir pemeriksaan laboratorium. ”Dari aspek penyebaran virus pada manusia, vaksinasi itu tak bermanfaat, tetapi bisa mencegah kematian pada unggas,” kata Nidom, Selasa (6/1), saat dihubungi dari Jakarta.
”Ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, termasuk para peternak, karena tidak ada tanda-tanda adanya infeksi awal,” katanya. Selama ini tanda-tanda infeksi flu burung diketahui jika ada banyak unggas yang mati.
Hasil penelitian pada 500 sampel ayam di pasar tradisional di Surabaya, tahun 2008, menunjukkan, ada satu virus H5N1 yang berpotensi bisa menular ke manusia. Setelah diisolasi, ternyata virus itu lebih ganas dari virus- virus sebelumnya. ”Jadi, penggunaan vaksin secara sembarangan bisa meningkatkan keganasan virus,” ujarnya.
Alihkan dana
Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya mengalihkan dana yang semula untuk vaksinasi massal menjadi dana untuk kompensasi bagi para peternak yang unggasnya mati akibat terserang flu burung. ”Yang perlu dilakukan adalah surveilans flu burung secara nasional untuk memetakan daerah unggas terinfeksi flu burung,” ujarnya.
vSelain itu, restrukturisasi industri perunggasan mendesak dilakukan. Salah satunya, melarang perdagangan ayam hidup di pasar unggas, mengontrol lalu lintas unggas antardaerah, dan melarang peternakan unggas di kawasan permukiman. ”Pengendalian flu burung harus berskala nasional,” kata Nidom.
Belum punya yang efektif
Dirjen Peternakan Departemen Pertanian Tjeppy D Soedjana mengakui sampai saat ini pemerintah belum memiliki vaksin AI yang efektif memberantas flu burung yang menyerang unggas.
”Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya, termasuk bekerja sama dengan laboratorium referensi OIE untuk membuat vaksin dari isolat yang tepat yang kita temukan di lapangan,” katanya. Mengenai kapan vaksin tersebut selesai dibuat, itu tergantung dari kerja keras OIE-FAO.
Adapun Pelaksana Harian Direktur Kesehatan Hewan Deptan Agus Wiyono menyatakan, vaksin AI yang ada sekarang sudah cukup efektif.
Persoalan penanggulangan virus AI di Indonesia cukup kompleks karena ada berbagai macam jenis virus tergantung lokasi. Ada virus yang secara serologis mutasinya sudah jauh atau ganas, tetapi ada yang belum terlalu jauh—saat ini digunakan sebagai biang (master seed) vaksin. (EVY/MAS)
Sumber: Kompas
Related News
- Flu Burung : Tingkatkan Kualitas Lingkungan Peternakan
- Flu Burung : Peternak Ayam Lokal Hentikan Vaksinasi pada Unggas
- Vaksin Amat Beragam, Agar Efektif Perlu Didukung "Biosecurity"
- Perguruan Tinggi Perlu Dilibatkan, Perlu Dilakukan Uji Tantang Untuk Vaksin
- 2 Kandidat Jadi Biang Ditemukan dari Penelitian

