Jumat, 10 Februari 2012      Login | Register

Flu Burung : Tingkatkan Kualitas Lingkungan Peternakan

SUKABUMI, KOMPAS – Jika peternak hendak menghentikan penggunaan vaksin virus flu burung, kualitas lingkungan peternakan unggas lokal harus ditingkatkan. Pasalnya, penyakit tetap akan mudah menyerang jika vaksinasi dihentikan. Demikian dikatakan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi Asep Sugiyanto, Senin (5/1), terkait permintaan penghentian vakisnasi virus flu burung oleh ratusan anggota Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli), termasuk yang berada di Sukabumi, Jawa Barat. Ratusan peternak anggota Himpuli mulai menghentikan vaksinasi virus flu burung karena hasil penelitian Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) CIVAS menunjukkan, vaksinasi pada ayam lokal tidak signifikan meningkatkan kekebalan (Kompas, 5/1). "Penghentian vaksinasi itu mengandung konsekuensi harus segera ditingkatkannya biosecurity dalam rangka restrukturisasi peternakan unggas sektor empat,” kata Asep.

Ia mengatakan, ketika vaksinasi dihentikan, berbagai penyakit pada unggas tetap mengacam sehingga tak ada pilihan kecuali meningkatkan kualitas lingkungan peternakan. “Peternak harus mengontrol pemberian pakan dan kondisi lingkungan sekitar peternakan. Kalau itu tidak dilakukan padahal vaksinasi dihentikan, unggas amat rentan terhadap serangan penyakit,” kata Asep.
Dia mengatakan, pada tahun 2006, vaksinasi dilakukan dengan menggunakan vaksin H5N1 sedangkan tahun 2007 menggunakan H5N2. “Penggunaan vaksin H5N2 dilakukan karena ternyata H5N1 terlalu keras sehingga banyak ayam yang justru mati setelah divaksin,” kata Asep. Namun, pada 2008 kembali digunakan vaksin H5N1 karena peternakan swasta menggunakan vaksin itu.

Tidak dianjurkan
Asep mengatakan, pada 2009 tak dianjurkan melakukan vaksinasi virus flu burung pada unggas yang diliarkan. “Pada tahun 2009 belum ada rencana vaksinasi, tetapi memang vaksinasi tidak dianjurkan untuk ayam kampung yang diliarkan karena tidak efektif. Lalu lintasnya amat tinggi sehingga sulit dikontrol,” katanya.
Direktur LSM CIVAS Albertus Mulyono mengatakan, pada dasarnya CIVAS merekomendasikan agar pemerintah mengkaji ulang penggunaan vaksin mengingat hasil penelitian menunjukkan tidak efektif. “Namun, kalau memang vaksinasi tetap akan dilakukan, pemerintah harus segera menyelesaikan pemetaan virus di lapangan agar bisa digunakan vaksin yang paling tepat di masing-masing daerah,” katanya. (AHA)
Sumber: Kompas [edited]