Flu Burung Juga Menular Melalui Lingkungan dan Produk Unggas yang Terinfeksi
Kompas, 30 Januari 2008 memberitakan, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam rapat kerja dengan komisi IX DPR RI, (29/1) di Jakarta, menjelaskan, virus flu burung dapat menular dari manusia ke manusia jika telah bermutasi. Hal ini dapat dibuktikan dengan sinyal epidemiologis, sinyal klinis dan virologist. Sinyal epidemiologis ditandai dengan kematian karena pneumonia yang tak jelas penyebabnya, terkait faktor waktu, tempat, rantai penularan berkelanjutan atau cluster penderita positif flu burung dengan dua generasi penularan atau lebih tanpa hubungan darah, maupun penularan pada petugas kesehatan yang merawat penderita.
Sejak ditemukan kasus pertama, Juli 2005, jumlah kasus flu burung di Indonesia kini 124 orang, 100 diantaranya meninggal (80,6%). Provinsi dengan angka kasus tertinggi adalah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Menanggapi hal ini, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Nyoman Kandun menyatakan, pihaknya terus berupaya menanggulangi flu burung pada manusia. Tetapi, lanjutnya, masalah ini juga terkait dengan penanganan flu burung pada unggas. “Penyebabnya multifactor, juga terkait dengan perilaku manusia dan lingkungan”, katanya. Dilaporkan, sampai sekarang belum terjadi penularan dari manusia ke manusia. Sumber penularan masih pada unggas.
Yang menarik, belakangan ditemukan kasus positif flu burung pada manusia, tetapi tidak ditemukan ada unggas disekitar rumahnya. Korban diduga kontak dengan virus itu, saat bepergian dan berada dilingkungan yang tercemar flu burung seperti pasar tradisional maupun produk atau bahan dari unggas.
Di minggu keempat bulan Januari ini, korban positif flu burung bertambah 4, yakni Nas (Tangerang-Banten), Miy (Depok-Jabar), Res dan Vir (Jakarta Timur). Laporan ini didasarkan pada pemeriksaan PCR oleh Litbangkes, dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

