Flu Burung: Belum Ada Sarana Riset Vaksin Sintetis
Jakarta, Kompas - Indonesia belum memiliki sarana untuk melakukan riset vaksin sintetis untuk flu burung. Akibatnya, temuan dari hasil riset awal tidak dapat dilakukan di dalam negeri. Demikian antara lain diungkapkan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie seusai pembukaan lokakarya ”Tantangan Penelitian Avian Influenza di Indonesia” pada Kamis (4/9) di Jakarta. Menurut Umar, upaya mengatasi penyakit flu, baik upaya pencegahan maupun pengobatannya, masih merupakan ladang riset yang amat luas. Akan tetapi, riset-riset tersebut dihadap- kan pada realitas kondisi sarana laboratorium di dalam negeri yang kurang memadai. Akibatnya, ada periset yang kemudian harus melanjutkan risetnya di luar negeri.
”Salah satu periset virus flu burung dari LIPI sudah memutuskan untuk mengembangkan risetnya di Australia sejak tahun lalu. Risetnya bertujuan memperoleh vaksin sintetis flu burung yang diindikasikan bisa, sekaligus meningkatkan kekebalan serta memulihkan sel yang rusak akibat virus flu burung atau H5N1 itu,” kata Umar.
Menurut Umar, metode vaksin sintetis merupakan temuan mutakhir di bidang teknologi kesehatan yang belum banyak berkembang di Indonesia.
Periset Ines Irene Atmosukarto dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, dengan kemampuan menciptakan inhibitor (penghambat) protein M2 yang terkandung di dalam virus H5N1. Ines berupaya menggabungkan inhibitor protein M2 dengan vaksin flu burung untuk mendapat vaksin sintetis flu burung.
”Riset seperti ini sudah sangat mendesak dilakukan karena dampak flu burung sangatlah besar,” kata Umar.
Dampak flu burung
Dia menyebutkan bahwa lima dampak flu burung meliputi pandemi (mewabah), ketidakstabilan industri ternak unggas, penurunan ketersediaan protein unggas, memburuknya citra negara, dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati karena pemusnahan berbagai jenis unggas lokal.
Di dalam lokakarya, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian yang menjabat Ketua Pelaksana Harian Komisi Nasional Flu Burung Bayu Krisnamurthi mengatakan, antara tahun 2004 dan Juni 2008 kerugian ekonomi di dalam negeri akibat flu burung mencapai Rp 4,3 triliun.
”Dari pengorbanan nilai ekonomi sebesar itu, 80 persen sifatnya masih indikatif. Karena itu, masalah flu burung ini menjadi ladang penelitian yang masih sangat luas,” tutur Bayu. Korban meninggal sudah mencapai 110 orang dari 135 pasien. Menurut Bayu, 25 pasien yang selamat sampai kini juga belum diteliti mekanisme keberhasilan penanganannya. (NAW)
Sumber : Kompas

