Jumat, 10 Februari 2012      Login | Register

Dua Mamalia Baru Ditemukan di Papua

Kedua jenis hewan itu ditemukan peneliti LIPI dan Conservation International.
Sejak lama hutan dan pegunungan di Provinsi Papua dan Papua Barat menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Tak berlebihan jika Papua kerap menjadi obyek penelitian sejumlah ilmuwan dalam dan luar negeri. Belum lama ini, ekspedisi lanjutan yang dilakukan sejumlah ilmuwan yang menyisir kawasan Pegunungan Foja, Papua, berhasil mengungkapkan dua spesies mamalia baru.
Mamalia baru itu adalah binatang sejenis tupai, Pygmy possum Cercatetus, dan tikus raksasa, Mallomys. Kedua jenis hewan itu ditemukan oleh gabungan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Conservation International (CI) saat menjelajah wilayah tersebut pada Juni 2007 lalu. Pada ekspedisi pertama yang dilakukan akhir tahun 2005 silam, para ilmuwan terkejut saat menemukan puluhan jenis satwa yang baru bagi dunia ilmu pengetahuan dan juga kenakearagaman hayati yang sangat kaya di papua.

Sehingga, kawasan tersebut mendapat julukan 'surga yang hilang'. ''Selama ekspedisi Juni lalu, tim mendokumentasikan dua mamalia. Keduanya masih dipelajari dan sepertinya baru di dunia sains,'' ujar Bruce Beehler, vice president CI, yang memimpin ekspedisi itu, seperti dilansir Livescience, akhir pekan lalu.
Menurut Beehler, ukuran tikus yang ditemukan itu hampir lima kali ukuran tikus kota. Saat ditemukan, hewan tersebut tidak takut kepada manusia bahkan seringkali mengunjungi perkemahan yang didirikan para peneliti. Sedangkan sang tupai, Possum, layak disebut marsupial (hewan berkantung) terkecil di dunia karena ukurannya yang cukup digenggam tangan. Begitu jinaknya, hewan pengerat itu meloncat dan dengan tenangnya dan berjalan-jalan di lengan dan kamera yang dibawa sang kameramen ekspedisi tersebut.
Penemuan mamalia baru seperti ini termasuk jarang sekali mengingat sebagian besar telah terdokumentasi. Foja adalah bagian dari lembah sungai Mamberamo, hutan tropis terbesar di Asia-Pasifik yang belum terjamah. Pemerintah Indonesia telah menyatakan wilayah itu sebagai suaka margasatwa.
Tim peneliti juga merekam tarian percumbuan burung-burung langka dan belum banyak diketahui informasinya itu untuk pertama kalinya. Beehler menyatakan, sangat melegakan mengetahui ada sebuah tempat di bumi yang begitu terisolasi sehingga tetap menjadi kehidupan alam liar yang seutuhnya. ''Kami sangat gembira melihat sepotong surga ini tetap murni dan mempesona seperti ketika pertama kali kami kunjungi,'' jelasnya.
CI dan LIPI berencana mengadakan ekspedisi kembali ke pegunungan itu pada akhir 2008 atau 2009. Ekspedisi ini untuk melakukan survei di hutan pegunungan tersebut pada puncak tertingginya dan kedalaman terendah yang belum banyak dipelajari. Di sana, mereka berharap bisa menemukan lebih banyak spesies baru, mulai dari katak, mamalia, kupu-kupu, sampai tumbuhan.

Ada sejak lama
Papua memiliki hutan hujan tropis terbesar di dunia, namun seperti hutan lain di wilayah Indonesia, hutan Papua juga terancam oleh deforestasi akibat penebangan ilegal. Untunglah, pemerintah Indonesia telah menyatakan wilayah itu sebagai suaka margasatwa. ''Sementara dunia mencari solusi untuk perubahan iklim, daerah tak tersentuh yang demikian luas ini akan semakin bernilai atas kemampuannya menyerap karbon dari atmosfer,'' tegas Beehler.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI Prof Dr Endang Sukara menyatakan, penemuan itu sebenarnya bukanlah penemuan jenis mamalia baru, karena dua mamalia itu sudah ada di Papua sejak lama. ''Hanya saja, mamalia itu belum terdokumentasi,'' ujarnya kepada Republika, Rabu (26/12).
Lebih jauh Endang menyatakan, Indonesia sudah memiliki Museum Zoologicum Bogoriense di Indonesia yang mengoleksi sedikitnya 2,7 juta spesimen fauna. ''Tapi, ada beberapa yang belum ditemukan dan terdokumentasi dengan rapi,'' ingatnya. Sebagai negara yang dikenal sebagai megabiodiversiti, kata Endang, kekayaan fauna di Indonesia sebenarnya belum terlihat semua.
Padahal, ingat dia, Indonesia memiliki jumlah mamalia terbesar di dunia yakni sekitar 650 jenis dan lebih dari 763 jenis kupu-kupu swallow tail. Keanekaragaman jenis reptilia, burung, dan amfibi berturut-turut berada di peringkat terbanyak ketiga, keempat, dan kelima dunia. ''Tahun depan kami akan melanjutkan ekspedisi ini karena program kerja sama dengan CI berlangsung hingga 2009,'' jelasnya.
Pihaknya, kata Endang, akan menyisir lebih ke timur Papua. ''Tak hanya di hutan-hutan dan pegunungan di Papua. Tetapi, kami juga akan menyisir pulau-pulau kecil di sekitarnya, bahkan menjelajah laut juga,'' tegasnya. Endang menambahkan, yang paling penting selain melakukan dokumentasi terhadap mamalia yang baru ditemukan adalah proses selanjutnya untuk menyelidiki peran fauna tersebut di alam. ''Atau mungkin manfaatnya bagi manusia, jadi proses penelitian masih terus berlangsung,'' jelasnya.
Deputi Bidang IPH LIPI ini menegaskan, usaha-usaha ekspedisi seperti itu harus didukung semua pihak. ''Saya kira kita juga harus melirik ahli-ahli asing yang konsisten menggali kekayaan hayati Indonesia untuk membantu kita,'' tegasnya. eye
source:republika