Daging Tiren Potensial Dijual Matang
Sleman, Yogya - Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Bidang Peternakan menengarai masih ada daging ayam tiren (mati kemarin) yang diperjualbelikan di Sleman. Terlebih, selama Lebaran ini.
Namun, untuk menemukan penjual ayam tiren tersebut tidak mudah. Para petugas Bidang Pertanian mengaku masih kesulitan. Sebab, daging tiren yang dijual kini sudah bukan lagi berupa daging mentah.
Daging tiren dijual dalam bentuk olahan. "Sekarang ini penjual daging tiren sudah tak berani menjual daging dalam kondisi mentah. Ini karena masyarakat sudah banyak yang bisa mendeteksi mana daging tiren dan mana yang bukan melalui sosialisasi yang sudah kami lakukan," ujar Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Sleman Suwandi Aziz kepada Radar Jogja di ruang kerjanya, kemarin.
Dengan demikian, pedagang tiren lantas mencari cara lain supaya ayam menjual daging yang tak layak konsumsi itu. Yakni dengan mengolah atau memasak daging tiren tersebut terlebih dahulu agar wujudnya tak bisa dikenali sebagai daging tiren. Paling memungkinkan adalah ayam tiren dijual dalam bentuk goreng yang sudah dicampur kunir supaya dagingnya terlihat segar.
Namun sejauh ini, Dinas belum menemukan pedagang tiren yang sudah diolah tersebut, karena untuk menindaknya, hal itu sudah menjadi kewenangan Dinas Perdagangan. "Kami hanya berwenang menindak ketika masih dalam bentuk daging mentah," imbuh Aziz.
Seingat Aziz, kasus ditemukannya daging tiren di Sleman terakhir terjadi 4-5 tahun lalu. Sejak saat itu, dalam setiap sidak, dinas tak pernah lagi menemukannya di pasaran. Ini ditengarai karena Sleman sudah memiliki tenaga fungsional yang turun langsung ke pasar untuk mengawasi perdagangan daging mentah.
Dikatakan, Sleman memiliki enam pejabat fungsional pengawas produk peternakan yang bertugas mendatangi pasar-pasar untuk mengawasi penjulan daging. Setiap harinya mereka mengambil sampel daging, baik daging ayam atau sapi untuk diperiksa apakah daging tersebut masih layak konsumsi atau tidak. Seorang pengawas mendatangi empat sampai lima pasar dalam seminggu.
Langkah ini diyakini mampu menekan peredaan daging tak layak konsumsi seperti daging ayam tiren atau daging gelonggongan. Khusus menjelang Lebaran, Dinas Pertanian, perikanan, dan Kehutanan bahkan hampir setiap hari melakukan operasi daging. Tak hanya di pasar-pasar, namun juga di rumah-rumah pemotongan hewan.
Seorang penjual daging ayam krispi di lingkungan Pasar Sleman bernama Kentung mengaku sangat mengetahui perihal isu penjualan daging ayam tiren yang telah diolah. Dirinya yang mengaku telah berjualan lebih dari 10 tahun itu memastikan daging ayam yang dijualnya bukan daging tiren. "Saya sudah punya langganan penyuplai daging ayam yang saya jual ini. Tapi walaupun begitu, saya juga selalu memeriksa apakah daging ayam yang saya beli benar-benar baik atau tidak," ungkapnya.
Langkah ini, kata dia, diambil sebagai upaya menghindari kerugian besar akibat ketidakpercayaan pembeli terhadap dirinya. Sebab, jika ia menjual ayam tiren, bisa jadi ia justru ditinggalkan oleh pelanggan-pelanggannya.
Mendeteksi ayam tiren yang masih mentah, Aziz mengimbau masyarakat agar meneliti sebelum membeli. Daging ayam tiren warnanya lebih pucat dari daging segar, sementara baunya juga amis. Kadang juga ada bintik-bintik bekas bercak darah yang ada di bagian leher atau kepala. Selain itu, harga murah yang dipatok pada sebuah daging ayam juga perlu diwaspadai. (nis)
Sumber : Radar Yogya

