Jumat, 10 Februari 2012      Login | Register

Ciptakan Sentra Budidaya Unggas Lokal

Jakarta, Kompas - Program restrukturisasi peternakan unggas di sektor 4 sebagai tindak lanjut pengalihan anggaran vaksinasi sebaiknya diarahkan pada upaya membangun sentra budidaya unggas dan pembibitan unggas lokal. Hal itu karena peternakan sektor 4 berhubungan langsung dengan unggas lokal. Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) Ade M Zulkarnain, Rabu (14/1) di Sukabumi, Jawa Barat, menegaskan hal itu. Sementara itu, pemerintah diingatkan untuk melakukan perencanaan yang matang sebelum melakukan program restrukturisasi tersebut.

Dengan mengadopsi pola peternakan modern sesuai good farming poultry (GFP), upaya pengendalian penularan virus flu burung akan lebih mudah. Hal itu akan berbeda dengan kondisi saat ini di mana peternakan di sektor 4 tidak dipelihara dengan baik, dibiarkan berkeliaran sehingga biosecurity sulit diterapkan.

Di lain pihak, pola beternak unggas modern pada peternakan sektor 4 sulit dilakukan mengingat kepemilikan unggas berbeda dalam jumlah maupun tingkat kepedulian masyarakat, serta kemampuan beternak mereka.

Dengan membentuk kelompok, upaya membangun sentra budidaya unggas dengan sistem modern dan mengacu GFP dapat dicapai. Namun, untuk mewujudkan harapan itu pemerintah juga harus memberikan dukungan berupa pembangunan pusat perbibitan unggas lokal yang biayanya mahal.

”Kami memiliki hambatan dalam pengadaan bibit dan belum ada langkah konkret Departemen Pertanian (Direktorat Perbibitan) untuk merealisasikan itu,” katanya. Pembangunan sentra budidaya unggas lokal dapat mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan.

Keunggulan budidaya unggas lokal antara lain harga lebih stabil, segmen pasar menengah ke atas, karena itu keuntungan juga bisa lebih besar.

”Kami menargetkan kontribusi unggas lokal ke pasar unggas nasional mencapai 10 persen tahun 2010,” katanya.

Perencanaan matang

Ketua Umum Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don Utoyo mengatakan, program restrukturisasi tidak bisa dijalankan secara terburu-buru, harus ada perencanaan yang matang dan jelas.

”Mestinya semua harus diajak bicara. Yang menguasai ayam ada di mana saja, itu harus dipetakan. Sebaran ayam tidak merata di seluruh Indonesia, setiap bulan tidak sama, mengikuti kekuatan pasar,” kata Don Utoyo.

Tanpa ada perencanaan matang, program restrukturisasi peternakan sektor 4 tidak akan berjalan baik.

Contoh negara lain

Sementara itu, Indonesia perlu mencontoh kesuksesan penanggulangan flu burung di sejumlah negara tetangga yang juga ditemukan kasus penularan virus tersebut pada unggas dan manusia. Salah satu negara yang dinilai berhasil mengendalikan penyakit mematikan itu adalah Thailand.

Peneliti dari Tropical Disease Diagnostic Center (TDDC) Universitas Airlangga, drh CA Nidom, saat dihubungi dari Jakarta kemarin, menyatakan, saat ini Thailand telah berhasil mengendalikan penyebaran virus flu burung sehingga tidak lagi ditemukan kasus flu burung dalam beberapa bulan terakhir ini.

Saat pertama kali muncul kasus flu burung pada tahun 2003, Pemerintah Thailand bertindak cepat dengan memusnahkan populasi unggas di negara itu. Langkah itu diikuti pembentukan satuan tugas lintas sektor dari pusat hingga daerah. ”Jadi, ada satu komitmen bersama lintas departemen, pemerintah daerah, dan masyarakat,” kata Nidom.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pemerintah Thailand juga bekerja sama dengan Osaka University untuk mengadakan studi yang sangat intensif dan memetakan sebaran virus flu burung di berbagai daerah di negara itu. ”Saat ini Thailand mengkhawatirkan pada burung migrasi sebagai pembawa virus flu burung,” ujarnya. (mas/evy)

Sumber : Kompas