Boyolali Berpeluang Ekspor Lele
Boyolali - Pemerintah Kabupaten Boyolali dalam jangka waktu panjang mempersiapkan kemungkinan ekspor lele dalam bentuk fillet ke sejumlah negara di Timur Tengah dan ASEAN. Hal ini dilakukan dengan mendorong perubahan pola budidaya lele menjadi lebih higienis serta mendongkrak jumlah produksi.
"Kami menargetkan ekspor lele itu tahun 2014, masih cukup lama karena memang banyak yang masih harus dibenahi. Yang terpenting ialah membuat citra lele itu menjadi lebih higienis," kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali Dwi Priyatmoko di Boyolali, Senin (28/6).
Di Boyolali, budidaya lele terpusat di Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, yang dikenal sebagai "Kampung Lele". Di lahan sekitar 20 hektar, sebanyak 105 warga memelihara lele di sekitar 1.600 kolam. Produksi lele di kawasan ini mencapai 10 ton per hari, mendominasi produksi lele di Boyolali yang sekitar 12 ton per hari.
Menurut Dwi, selama ini budidaya lele di wilayah itu masih dengan sistem sanitasi air yang tidak mengalir. Artinya sejak bibit lele dimasukkan ke dalam kolam hingga siap panen airnya tetap.
Diharapkan pola ini akan bisa berubah menjadi budidaya dengan air mengalir sehingga terlihat lebih higienis bagi pembeli. Namun, perubahan pola ini juga memiliki tantangan berupa pasokan air.
Peluang ekspor memungkinkan sebagai salah satu pasar alternatif karena produksi lele di Boyolali jauh melebihi kebutuhan lokal yang hanya sekitar 500 kilogram per hari. Saat ini lele yang tak terserap pasar lokal dikirim ke Yogyakarta, Solo, Salatiga, dan daerah sekitarnya.
"Tahun ini kami juga mendapat dana hibah di pemerintah pusat untuk bantuan penambahan 500 kolam ikan lele senilai Rp 1,5 miliar. Penambahan ini meningkatkan produksi sekitar 25 persen dari saat ini. Namun, pencairannya masih menunggu APBN Perubahan," kata Dwi.
Kendala Ukuran
Gunadi, Wakil Ketua Karya Mina Utama, kelompok peternak lele di "Kampung Lele" mengaku harga lele stabil di kisaran Rp 9.000 - Rp 9.500 per kilogram di tingkat peternak. Selama ini pasar masih mampu menyerap seluruh produksi, tetapi dia tidak menutup ketertarikan untuk mengekspor lele.
"Sudah ada penawaran ekspor, tetapi kami masih terkendala ukuran lele minimal seekor setengah kilogram. Sekarang masih satu kilogram 6-10 lele," ujarnya.
Gunadi mengaku untuk membesarkan lele dengan ukuran minimal setengah kilogram, dibutuhkan modal lebih banyak karena kebutuhan pakan lebih banyak serta risiko kematian lelel juga lebih tinggi. Hal ini membuat peternak memilih cara yang lebih mudah dan minim risiko dengan menarget pasar lokal atau regional. (GAL)
Sumber : Kompas

