Badung Eliminasi Anjing Diduga Rabies Setelah Kematian Empat Warga
Bali - Kabupaten Badung mengeliminasi 11 anjing rabies dari desa Ungasan di kecamatan Uluwatu, Bali, pada Kamis setelah empat orang warga, dua dewasa dan dua anak, yang telah digigit kemudian meninggal tanpa sebab yang jelas. Petugas Dinas Peternakan dan Yayasan Yudisthira Swarga yang bergerak di bidang kesejahteraan anjing liar kemudian menangkap anjing-anjing tersebut, pengambil carian otak untuk pengujian, dan lalu memberikan suntikan mematikan untuk mencegah kemungkinan terjadinya wabah. Anjing-anjing tersebut kemudian dikubur.
Kepala desa Ungasan, Wayan Suarkana, mengatakan sebagian besar anjing yang dieliminasi merupakan anjing liar, meskipun ada beberapa yang milik warga yang dengan sukarela telah menyerahkan anjingnya. Menurut Suarkana, akan dibutuhkan beberapa hari untuk menentukan apakah anjing-anjing tersebut terjangkit rabies.
Suarkana mengatakan pemerintah mungkin akan mengeliminasi lebih banyak anjing dalam desa tersebut sebelum hasil uji laboratorium atas cairan otak anjing-anjing itu keluar. “Sulit mengatakan apakah penyakit tersebut sebenarnya ada atau apakah anjing yang sudah kita eliminasi benar terinfeksi rabies, tetapi kita tidak boleh mengambil risiko,” katanya.
Ini adalah pertama kalinya dilakukan eliminasi massal terhadap anjing rabies. Selama beberapa dekade terakhir Bali bebas rabies, tetapi tingginya jumlah kematian memaksa dinas bergerak cepat, kata Suarkana.
Pada bulan September tahun ini, Made Artana (32) dan Ketut Wirata (28) menjadi korban gigitan anjing. Dua bulan kemudian keduanya meninggal, petugas menduga penyebabnya rabies. Artana meninggal pada 14 November 2008 di Rumah Sakit Kasih Ibu Badung sementara Wirata meninggal pada 28 November 2008 di Rumah Sakit Sanglah Denpasar.
Suarkana menolak memberikan identitas dua orang anak yang meninggal meskipun kejadiannya dikatakan belum lama ini.
“Penyebab meninggalnya tidak diketahui, tetapi ada dugaan rabies. Mereka mengalami gigitan sebelum meninggal,” kata Suarkana.
Enam belas warga desa lainnya juga telah mengalami gigitan meskipun tidak ada yang mengeluh sakit. Catatan desa menunjukkan terdapat 170 keluarga di desa tersebut.
Masyarakat Bali cenderung membiarkan anjing liar berkeliaran dan anjing peliharaan juga jarang sekali dirantai.
Dalam wawancara terpisah, Tinneke Indrajaya dari Bali Animal Welfare Association (BAWA) mengatakan akan menjadi masalah besar bila anjing-anjing terinfeksi rabies karena tidak ada vaksin rabies di pulau Bali.
“Bali selama ini bebas rabies sehingga belum pernah ada keperluan akan vaksin.”
“Tetapi tidak usah panik, ini belum pasti,” katanya.
Rabies adalah penyakit yang menyebabkan peradangan akut pada otak. Penyakit ini dapat ditularkan oleh anjing, monyet, dan kelelawar serta mamalia lainnya.
Gigitan dari hewan terinfeksi bersifat fatal bagi manusia bila tidak diobati. Tetapi pemberian imunisasi yang segera akan secara efektif mencegah 100% kejadian penyakit. Menurut laporan 2006 dari WHO terdapat 31,000 kematian di Asia akibat rabies. (Andra Wisnu)
Sumber: The Jakarta Post

