Anggaran Dialihkan Subsidi untuk Restrukturisasi Peternakan
Jakarta, Kompas - Departemen Pertanian sedang mempertimbangkan revisi anggaran subsidi vaksinasi flu burung untuk biaya restrukturisasi peternakan. Namun diakui perlu waktu dan proses panjang untuk merevisi daftar isian pelaksanaan anggaran.
Demikian pernyataan Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Selasa (13/1) di Jakarta, menjawab pertanyaan terkait bagaimana sikap Departemen Pertanian terhadap kelanjutan program vaksinasi flu burung di peternakan sektor 4 yang tidak efektif. Menurut Anton, tantangan pengalihan subsidi ke program restrukturisasi yaitu pada panjangnya proses dan waktu untuk merevisi DIPA. ”Sehingga harus kita pilih program yang benar- benar dapat dilaksanakan dalam waktu yang ada,” katanya.
Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) Ade M Zulkarnain mengungkapkan, kini para peternak menanti kebijakan baru dari Deptan menyusul tidak efektifnya pelaksanaan vaksinasi flu burung. ”Bahkan, para kepala dinas peternakan di daerah juga menanti kebijakan baru setelah vaksin dinilai tak efektif,” katanya. Sikap tegas Deptan ini, kata Zulkarnain, sangat diperlukan mengingat selama ini pelaksanaan program vaksinasi unggas di sektor 4 disubsidi pemerintah dan anggarannya juga besar.
Lebih dari Rp 100 miliar
Mengacu data Deptan bahwa jumlah unggas di sektor 4 mencapai 300 juta ekor, anggaran subsidi vaksinasi jelas mencapai puluhan miliar.
Himpuli menghitung, pelaksanaan vaksinasi dilakukan berdasarkan populasi ayam di sektor 4 yang diperkirakan 300 juta ekor.
Apabila harga vaksin per dosis Rp 200, nilai subsidi sekitar Rp 60 miliar untuk per dosis—jika dua dosis sudah lebih dari Rp 100 miliar. ”Itu karena subsidinya 100 persen,” katanya. Belum lagi biaya vaksinator dan pelaksanaan vaksinasi di setiap dinas. Jadi pengalihan dana tersebut disambut baik oleh peternak.
Khusus restrukturisasi peternakan di sektor 4, ujarnya, ayam kampung harus dikandangkan dengan standar jelas.
”Misalnya lokasi kandang tak lagi dekat dengan tempat tinggal. Kandang tidak seperti peti, tetapi standar kandang ayam modern. Village poultry farming juga dijalankan dengan membuat para pemilik ayam berkelompok agar mudah menerapkan good farming practice,” ujar Zulkarnain.
Kandangkan unggas
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengimbau pengandangan unggas untuk mencegah penularan flu burung pada manusia. Tentang tak adanya gejala klinis spesifik pada unggas yang terinfeksi flu burung, pihaknya akan berkoordinasi dengan Deptan. ”Keputusan resmi tentang perubahan gejala flu burung pada unggas adalah wewenang Deptan. Kami menunggu keputusan Deptan,” katanya.
Namun, Depkes tidak akan mengubah penatalaksanaan flu burung pada manusia meski ada keputusan Deptan bahwa banyak ayam yang jadi pembawa virus tanpa gejala klinis spesifik.
Depkes mendefinisikan seseorang dinyatakan terduga flu burung jika mengalami gejala terinfeksi flu burung dan pernah kontak dengan unggas. ”Bisa unggas mati atau hidup. Riwayat kontak dengan unggas merupakan salah satu indikator pasien terinfeksi flu burung,” katanya.
Dalam penatalaksanaan flu burung, perlu diketahui apakah ada unggas di sekitar tempat tinggal pasien atau apakah pasien pernah kontak dengan unggas. Ada dua pintu penanganan flu burung. Pertama, tim Depkes dan Deptan turun ke lapangan bila mendapat informasi ada orang dicurigai terinfeksi flu burung. Kedua, bila ada informasi ada banyak unggas mati atau positif flu burung.
Sumber penularan flu burung pada manusia adalah unggas, terutama ayam. Meski berbeda strain, virusnya sama-sama H5N1 sehingga terjadi penularan.(MAS/EVY)
Sumber : Kompas

