Jumat, 10 Februari 2012      Login | Register

80 Persen Pasar Belum Bebas Flu Burung

YOGYAKARTA, KOMPAS - Sebanyak 80 persen pasar belum bebas dari virus flu burung. Dengan lalu lintas unggas hidup yang cukup tinggi, pasar menjadi salah satu sumber penularan virus flu burung yang perlu diwaspadai. Hal ini diungkapkan Ketua Pelaksana Harian Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza Bayu Krisnamurthi di sela-sela Simulasi Respons Pandemi Influenza di Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (25/2). ”Ke-80 persen pasar itu adalah pasar-pasar basah yang masih memperdagangkan unggas hidup,” katanya. Pasar-pasar itu menjadi sumber penularan ulang virus flu burung. Unggas hidup yang diperjualbelikan di pasar berpotensi besar tertular. Para pedagang dan pengunjung pasar juga berisiko tertular.

 

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah atau pengelola pasar perlu melakukan penyemprotan desinfektan pada semua pasar yang masih memperdagangkan unggas hidup, setidaknya sekali dalam sepekan. Menurut Bayu, seharusnya sudah tidak ada lagi perdagangan unggas hidup di tingkat pasar. Selain itu, unggas peliharaan di pekarangan juga berisiko tinggi tertular virus flu burung karena sulitnya pengawasan dan pemberian vaksin. Jumlah unggas dilepaskan sekitar 15 persen total unggas.

Vaksin habis
Di Sleman, DIY, persediaan vaksin flu burung telah habis sejak awal Januari lalu. Pemerintah pusat menghentikan kiriman bantuan vaksin flu burung mulai tahun ini. ”Kami kini kesulitan menangani pencegahannya,” ujar Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman Suwandi Azis. Dia mengungkapkan, vaksin merupakan salah satu variabel penting untuk mencegah penyebaran flu burung selain penyemprotan desinfektan dan penerapan biosecurity. (ENG/IRE)