Jumat, 10 Februari 2012      Login | Register

76 Warga Divaksinasi Rabies Setelah Digigit Anjing

Bali - Dinas Kesehatan Badung pada hari Jumat memvaksinasi 76 warga desa Ungasan, Uluwatu, yang digigit anjing sehubungan dengan adanya empat korban meninggal di daerah tersebut yang diduga akibat rabies. Gede Agung Mayun Dharma Atmaja, Kepala Dinas Kesehatan Badung, mengatakan bahwa dinasnya telah memesan vaksin tersebut dari Jakarta segera setelah mendengar laporan bahwa kematian tersebut mungkin disebabkan oleh rabies, penyakit yang tidak pernah ditemukan di Bali selama beberapa dekade. “Kami menganggap ini sebagai kejadian luar biasa, kami tidak mau gegabah dalam menangani masalah ini karena sejauh ini Bali bebas rabies,” katanya kepada The Jakarta Post pada hari Jumat.

“Terlebih lagi, terjadi peningkatan jumlah kasus gigitan anjing, jadi kami segera meminta kiriman vaksin dari Jakarta dan orang-orang yang telah divaksin berada dalam keadaan sehat.”

Belum lama ini, dua orang dewasa dan dua anak dari desa yang sama di Ungasan meninggal dengan dugaan infeksi rabies. Sebagai tanggapan, pemerintah setempat dan Yayasan Yudisthira Swarga yang bergerak di bidang kesejahteraan anjing liar telah melaksanakan razia dan eliminasi anjing masal di desa tersebut.

Pada hari Jumat, 17 anjing liar dan peliharaan diuji dan telah dibunuh menggunakan suntikan mematikan. Dalam uji tersebut, sejumlah kecil cairan otak hewan diekstraksi dengan hewan dalam keadaan dibius.

Mayun mengatakan dinas masih menunggu hasil uji anjing-anjing tersebut dari Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) Bogor di Jawa Barat. “Akan dibutuhkan kira-kira 21 hari sebelum hasilnya keluar,” katanya. Menurut Mayun, Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Dinas Perikanan dan Peternakan Badung telah mengunjungi penduduk desa untuk memberikan penyuluhan terkait kemungkinan terjadinya wabah dan meminta mereka mengikat anjingnya.

“Hal ini dilakukan sesuai dengan permintaan warga desa. Dengan cara itu dapat diketahui anjing yang mana yang harus dieliminasi karena anjing milik warga sudah diikat ke rumah pemiliknya,” kata Gede Ashrama, Wakil Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Badung yang saat itu ada saat wawancara.

Ketika ditanya mengapa dinas tidak melakukan vaksinasi massal kepada 170 keluarga yang ada dalam desa tersebut, Ashrama mengatakan hal itu hanya akan dilakukan jika hasil uji keluar positif. “Jika hasilnya positif, maka kita harus melakukan karantina,” katanya. “Hal yang paling penting sekarang adalah melanjutkan pengamatan terhadap populasi anjing liar di daerah sini dan terus mengidentifikasi warga yang telah digigit anjing.”

Rabies, virus yang menyebabkan peradangan otak, dapat menular melalui air liur dan darah dan biasanya ditularkan oleh anjing, kelelawar dan monyet. Penyakit ini memiliki masa inkubasi dua minggu. Dalam waktu dua minggu korban mengalami gejala takut cahaya dan enggan minum air. Dalam tahap akhir, penyakit ini menimbulkan kegilaan, letargi, dan akhirnya koma. Kematian akibat rabies umumnya terjadi akibat gagal pernafasan.  (Luh De Suryani)

Sumber : The Jakarta Post