Jumat, 10 Februari 2012      Login | Register

Reply to comment

Pasar Hewan Diawasi Ketat

MADIUN(SINDO) – Sejumlah tempat berisiko tinggi menjadi tempat penularan antraks pada hewan kurban mendapat pengawasan ketat Pemkab Madiun.   Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Madiun memfokuskan pengawasan pada rumah potong hewan,pasar hewan sapi dan kambing,daerah padat ternak sapi dan kambing, serta tempat-tempat pengumpulan hewan ternak yang diperdagangkan.

Pasar hewan yang paling diawasi adalah pasar Bajulan, Kec Saradan,dan Pasar Moneng di Kec Pilangkenceng.  Sementara di Kota Madiun, yaitu pasar hewan di Kelurahan Nambangan Lor, Kec Mangunharjo, Kota Madiun. Menurut Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Madiun Sulhadi Suwando, untuk memastikan hewan kurban sehat dan terbebas dari antraks maupun penyakit menular lainnya, hewan tersebut harus mendapatkan surat keterangan kesehatan hewan. 
”Sapi dari luar yang masuk ke wilayah Madiun harus mendapatkan surat keterangan kesehatan hewan tersebut. Begitu pula, sapi maupun kerbau dari wilayah Madiun yang diperjualbelikan di pasar-pasar hewan juga harus mendapatkan surat keterangan itu,” ujarnya kepada SINDO,kemarin. Menurut dia, untuk memeriksa kondisi kesehatan hewan yang akan dijadikan hewan kurban, sedikitnya 40 petugas lapangan dibantu mantri hewan yang berada di 15 kecamatan telah diturunkan.Para petugas kesehatan hewan dan mantri hewan tersebut memeriksa kondisi hewan kurban di pasar hewan dan pintu masuk perbatasan antardaerah.
 ”Untuk di pintu masuk perbatasan, seperti Madiun-Ponorogo, Madiun-Ngawi, dan Madiun-Nganjuk, pemeriksaan terhadap hewan kurban, petugas kami dibantu oleh petugas Dinas Perhubungan dan Satpol PP,”ujarnya. Menurut Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular Hewan, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Madiun Santoso, kasus penyakit antraks di wilayah Kabupaten Madiun pernah terjadi pada 1957.Saat itu,wilayah Wonoasri, Balerejo,Wungu, Sawahan, dan Jiwan, yang saat ini masuk wilayah Kecamatan Madiun, ditemukan kasus penyakit antraks pada sapi dan kerbau. ”Meski kasusnya sudah lama, kami tetap mewaspadai.Sebab, virus antraks bisa hidup ratusan tahun di spora dalam tanah,” ujarnya. 
Oleh karena itu, pihaknya bekerja sama dengan Balai Besar Veteriner (BBV) Yogyakarta, terus memantau lokasi endemik antraks tersebut. Bahkan, kata dia, sampel tanah, spora dan tanahnya, serta kotoran hewan dari daerah endemik tersebut telah dikirim ke BBV untuk diperiksa dan diteliti di laboratorium. ”Dari hasil terakhir diketahui negatif.Namun,kami tetap mewaspadai,”ujarnya. 
Sementara itu, menurut Misran, 60, pedagang sapi di Pasar Hewan Nambangan Kidul, mendekati hari raya Idul Adha 1428 Hijriah, perdagangan hewan kurban terutama sapi, kerbau, domba,dan kambing mulai ramai. Hewan kurban tersebut,kata dia, banyak berdatangan dari luar wilayah Madiun, seperti Nganjuk dan Ngawi. ”Harga sapi dan kerbau saat ini juga cenderung mulai naik. Untuk sapi yang dulu harganya berkisar Rp6 juta, sekarang naik menjadi Rp7–7,5 juta,”ujarnya. (muhammad roqib)

Reply

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
8 + 1 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.